PORTALBENGKULU.ID - Perkembangan terbaru di pasar aset digital menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam cara ekonomi kripto beroperasi, terutama seiring tertekannya harga Bitcoin. Secara historis, Bitcoin (BTC) berfungsi sebagai barometer utama sentimen pasar, di mana kenaikannya akan mendorong investasi ke berbagai startup, dana ventura, bursa, dan ribuan token spekulatif lainnya.

Namun, situasi kini mulai memperlihatkan pergeseran paradigma di mana beberapa bisnis dengan pertumbuhan tercepat di industri ini mulai mengikuti logika pergerakan yang berbeda dari harga BTC. Perubahan ini terjadi di tengah aksi jual yang menekan mata uang kripto terbesar tersebut.

Pada hari Jumat, harga Bitcoin dilaporkan sempat jatuh di bawah level psikologis US$60.000. Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan yang telah menghapus sekitar separuh dari nilai tertinggi yang dicapai BTC pada tahun sebelumnya.

Aksi jual besar-besaran ini dipicu oleh beberapa faktor utama yang memengaruhi psikologi investor. Salah satunya adalah adanya dana yang keluar secara signifikan dari instrumen Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin Spot yang baru diluncurkan.

Selain itu, meningkatnya minat investor ritel terhadap sektor kecerdasan buatan (AI) juga turut mengalihkan perhatian dan modal dari pasar kripto. Terdapat pula pertanyaan serius mengenai keberlanjutan kemampuan pembeli institusional besar untuk terus mengakumulasi aset kripto seperti sebelumnya.

Sementara Bitcoin mengalami tekanan, pasar altcoin—yaitu semua token selain Bitcoin—justru menunjukkan pelemahan yang lebih dalam. Keadaan ini sebenarnya sudah dimulai sebelum pelemahan signifikan Bitcoin baru-baru ini terjadi.

Dilansir dari Bloomberg News, valuasi pasar altcoin secara keseluruhan telah mengalami penurunan drastis. Valuasi altcoin mencapai puncaknya sebesar US$431 miliar pada November 2021, namun kini nilainya telah terpuruk hingga sekitar US$170 miliar, berdasarkan data dari TradingView.

Perubahan dinamika ini mengindikasikan bahwa meskipun Bitcoin tetap menjadi aset digital terbesar, sentralitasnya sebagai satu-satunya penentu arah industri mulai berkurang. Penurunan harga BTC yang signifikan ini disoroti oleh para analis mengenai implikasinya bagi ekosistem yang lebih luas.

"Cara termudah untuk memahami kripto pada awalnya adalah dengan melihat Bitcoin," demikian pernyataan yang disampaikan oleh Sid Verma dan Vildana Hajric–Bloomberg News. Mereka menambahkan bahwa ketika harga BTC naik, seluruh ekosistem mengikutinya, namun kini tren tersebut mulai terdisrupsi.