PORTALBENGKULU.ID - Ruang digital saat ini menawarkan peluang besar bagi perempuan untuk berjejaring, menyuarakan pendapat, bekerja, hingga melakukan advokasi sosial. Namun, di balik potensi tersebut, ancaman kekerasan dan pelecehan berbasis gender masih terus membayangi para pengguna perempuan di dunia maya.

Fenomena ini mendapat perhatian serius dari Universitas Airlangga (Unair) yang menyoroti betapa rentannya posisi perempuan di ranah internet saat ini. Dilansir dari Detikcom, situasi memprihatinkan ini dipicu oleh kuatnya pengaruh budaya patriarki yang masih terbawa ke dalam interaksi digital pada Minggu (24/5/2026).

Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Unair, Prof. Myrtati Dyah Artaria, menilai peningkatan partisipasi perempuan di internet berbanding lurus dengan tingginya risiko serangan siber. Guru besar bidang bio-antropologi dan antropologi forensik FISIP Unair ini menjelaskan bahwa ancaman di ruang siber sering kali lebih sulit dikendalikan.

"Di satu sisi, ruang digital membuka peluang baru bagi perempuan untuk bekerja, membangun jejaring, menyuarakan opini, hingga melakukan advokasi sosial. Namun, disisi lain ruang digital juga menciptakan bentuk kekerasan dan pelecehan yang sering kali lebih sulit dikendalikan dibanding kekerasan di ruang fisik," kata Prof Myrta.

Menurut analisisnya, kerentanan perempuan di media sosial berakar dari bertahannya budaya patriarki yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Akibatnya, netizen perempuan kerap menjadi sasaran empuk komentar negatif, perundungan fisik (body shaming), hingga serangan yang bersifat personal.

"Karena internet masih membawa ketimpangan gender dan budaya patriarki yang sudah lama ada di masyarakat. Teknologinya memang baru, tetapi cara orang memperlakukan perempuan masih sama seperti di dunia nyata," ujar Prof Myrta.

Prof Myrta menambahkan bahwa kritik yang ditujukan kepada perempuan di ruang publik sering kali bergeser dari substansi pemikiran menuju ranah personal. Identitas perempuan kerap kali dikaitkan secara tidak adil dengan aspek fisik, emosi, moralitas, hingga hubungan sosial mereka.

"Ruang digital sebenarnya tidak terpisah dari kehidupan sosial. Nilai, norma, dan budaya di masyarakat ikut terbawa ke internet. Karena itu, cara perempuan diperlakukan di dunia digital sering mencerminkan bagaimana perempuan diperlakukan di dunia nyata," jelas Prof Myrta.

Serangan siber terhadap perempuan biasanya tidak terjadi secara instan, melainkan melalui tahapan eskalasi yang terus meningkat. Pola ini umumnya berawal dari komentar yang merendahkan, lalu berkembang menjadi ancaman, penyebaran data pribadi (doxing), hingga kekerasan seksual berbasis digital.