PORTALBENGKULU.ID - Perbincangan mengenai makanan ultra proses atau ultra-processed food (UPF) kini tengah ramai di media sosial, terutama setelah sarden kalengan disebut-sebut bukan bagian dari kategori tersebut. Banyak masyarakat yang mulai membandingkan tingkat kesehatan makanan kaleng dengan produk olahan lainnya berdasarkan klasifikasi ini.

Klasifikasi pangan ini merujuk pada sistem NOVA yang membagi makanan ke dalam empat kelompok berbeda berdasarkan tingkat pengolahannya. Kelompok tersebut berkisar dari bahan segar tanpa olahan (unprocessed foods) hingga makanan yang melalui proses pabrikasi tingkat tinggi (ultra-processed foods).

Belakangan ini, produk populer seperti mi instan, sosis, nugget, hingga minuman kemasan langsung dicap tidak sehat hanya karena masuk dalam kategori UPF. Padahal, beberapa studi ilmiah menunjukkan bahwa dampak kesehatan dari setiap produk di dalam kelompok UPF ini tidak bisa disamaratakan.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Diabetes Care pada tahun 2023 mengamati data dari lebih dari 198 ribu partisipan di Amerika Serikat terkait konsumsi UPF. Hasil studi tersebut mengonfirmasi bahwa konsumsi makanan ultra proses yang tinggi memang berkaitan erat dengan risiko diabetes tipe 2.

Meskipun demikian, para peneliti menemukan bahwa tidak semua jenis produk UPF memicu risiko kesehatan yang sama. Produk seperti minuman manis dan daging olahan memang meningkatkan risiko diabetes, namun produk lain seperti yogurt dan sereal gandum utuh justru menunjukkan hasil yang berbeda.

Pakar teknologi pangan dari IPB University, Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi, menyoroti adanya kekeliruan ketika masyarakat langsung melabeli semua makanan dalam kategori UPF sebagai produk yang tidak sehat. Menurut beliau, setiap produk memiliki karakteristik dan kandungan gizi yang sangat bervariasi.

"Akibatnya, pangan olahan yang sebenarnya aman, bergizi, dan sesuai standar - seperti susu UHT, pangan fortifikasi, atau beberapa produk pangan olahan lokal produksi IMK/UMKM - ikut terseret ke dalam stigma 'UPF = tidak menyehatkan'," ujar Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi.

Beliau juga menekankan bahwa penilaian terhadap suatu makanan tidak boleh hanya didasarkan pada satu kategori pengolahan saja. Kandungan gizi secara menyeluruh, komposisi bahan, serta pola konsumsi harian tetap menjadi faktor utama yang menentukan kesehatan tubuh.

Dilansir dari detikHealth, kehebohan mengenai sarden kalengan yang diklaim bukan UPF juga tidak serta-merta menjadikannya pilihan yang jauh lebih sehat tanpa melihat kandungan nutrisinya. Pada akhirnya, pemahaman yang bijak mengenai label pangan dan pola makan seimbang jauh lebih penting daripada sekadar menghindari satu kelompok makanan tertentu.