PORTALBENGKULU.ID - Kasus dugaan asusila kembali mencoreng dunia pendidikan keagamaan di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Kali ini, sebuah pondok pesantren di Kecamatan Widodaren menjadi sorotan setelah terungkapnya aksi bejat seorang pengasuh berinisial D terhadap para santriwatinya.
Penyelidikan mendalam yang dilakukan oleh Kepolisian Resor Ngawi mengungkap fakta baru mengenai jumlah korban yang bertambah. Pihak kepolisian menemukan bahwa jumlah santriwati yang diduga menjadi korban tindakan asusila tersebut kini mencapai delapan orang, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
"Jumlah korban ada delapan, namun yang resmi melaporkan baru tiga," kata Aris pada Minggu (24/5/2026).
Terbongkarnya kasus ini bermula ketika beberapa santriwati memberanikan diri untuk bersuara dan mencari keadilan atas trauma yang mereka alami. Didampingi oleh organisasi kemasyarakatan setempat, mereka mendatangi markas kepolisian untuk mengadukan perbuatan sang pengasuh.
"Kemarin hari Jumat tiga santriwati didampingi Yakuza Ngawi mendatangi Satreskrim untuk pelaporan dugaan pencabulan oleh pengasuh Ponpes di wilayah Kecamatan Widodaren," ujar Aris saat memberikan konfirmasi kepada pihak detikJatim pada Sabtu (23/5/2026).
Tiga santriwati yang menjadi pelapor awal tersebut diketahui bukan merupakan warga lokal, melainkan berasal dari luar daerah Ngawi. Mereka adalah G yang berasal dari Blora, serta dua santriwati lain berinisial P dan Z yang datang dari Sragen.
"Kita lakukan visum dan saat ini korban mendapatkan pendampingan dari Unit PPA," jelas Aris mengenai langkah penanganan medis dan psikologis yang diberikan kepada para korban.
Guna memulihkan trauma dan menjamin keamanan mereka, ketiga korban kini berada dalam penanganan intensif pihak berwenang. Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Ngawi terus melakukan pendampingan sekaligus mendalami kemungkinan adanya korban lain yang belum melapor.