PORTALBENGKULU.ID - Perkembangan perdagangan Tiongkok menunjukkan tren positif yang kuat pada bulan Mei, di mana data ekspor dan impor tumbuh melampaui proyeksi pasar sebelumnya. Lonjakan ini terjadi meskipun terdapat sejumlah gangguan signifikan yang berasal dari ketegangan geopolitik yang terjadi di kawasan Iran.

Administrasi Umum Kepabeanan Tiongkok merilis pernyataan pada hari Selasa yang mengonfirmasi bahwa sektor ekspor negara tersebut melonjak lebih dari 19% secara tahunan. Kenaikan ini merupakan yang tertinggi dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, menunjukkan momentum yang kuat dalam aktivitas perdagangan luar negeri.

Angka pertumbuhan ekspor sebesar 19% tersebut secara substansial melampaui perkiraan median sebesar 15% yang telah dihimpun dari survei ekonom oleh Bloomberg. Hal ini mengindikasikan adanya kekuatan fundamental yang menopang kinerja perdagangan Tiongkok pada periode tersebut.

Sementara itu, sektor impor Tiongkok juga menunjukkan performa impresif pada bulan yang sama, melonjak lebih dari 27% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Keseimbangan antara ekspor dan impor menghasilkan surplus perdagangan yang mencapai US$105,4 miliar.

Surplus perdagangan pada bulan Mei ini tercatat sebagai angka surplus terbesar yang berhasil dicapai Tiongkok sejak bulan Januari, menegaskan kembali peran vital Tiongkok dalam rantai pasok global.

Kekuatan dalam pertumbuhan ekspor ini dikaitkan dengan adanya permintaan berkelanjutan terhadap perangkat keras yang berhubungan erat dengan teknologi kecerdasan buatan (AI). Selain itu, ada spekulasi mengenai pemesanan pesanan luar negeri yang mungkin diajukan lebih awal karena adanya ketidakpastian geopolitik global.

"Pertumbuhan ekspor yang kuat menunjukkan dukungan berkelanjutan dari permintaan perangkat terkait AI dan kemungkinan adanya pemesanan pesanan luar negeri yang dimajukan di tengah ketidakpastian geopolitik," ujar Hao Zhou, ekonom utama di Guotai Junan International Holdings.

Hao Zhou menambahkan bahwa kinerja ekspor yang solid ini berhasil memberikan "bantalan yang berarti terhadap melemahnya kondisi domestik" Tiongkok saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa sektor eksternal mampu mengkompensasi tantangan di pasar internal.

Pembangunan infrastruktur AI secara global kini telah diakui sebagai salah satu pendorong utama yang menopang laju perdagangan di kawasan Asia hingga tahun 2026. Kekuatan permintaan ini terbukti mampu menahan dampak negatif dari krisis energi global yang dipicu oleh konflik yang terjadi di Timur Tengah.