PORTALBENGKULU.ID - Bank Indonesia (BI) mengambil langkah tegas untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus membayangi. Salah satu kebijakan utamanya adalah memperketat transaksi valuta asing dengan memangkas batas pembelian dolar Amerika Serikat tanpa dokumen pendukung atau underlying.
Kebijakan strategis ini dipaparkan langsung dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di kompleks Parlemen, Jakarta, pada Senin, 18 Mei 2026. Langkah ini mencakup intervensi menyeluruh di pasar domestik maupun luar negeri guna meredam tekanan terhadap mata uang garuda, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Operasi moneter yang dilakukan Bank Indonesia tersebut berdampak pada penyusutan cadangan devisa negara sekitar US$ 10 miliar. Namun, penggunaan instrumen swap dan hedging diklaim mampu meminimalisir pengurasan cadangan devisa secara tunai sehingga likuiditas tetap terjaga dengan baik.
"Sehingga penurunan cadangan devisa yang sekitar US$ 10 miliar, itu baru sebagian saja intervensi yang tunai ini, karena yang sebagian besar lebih dari 2/3 itu adalah untuk secara swap sama hedging, supaya ini tidak semua menguras cadangan devisa," jelas Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.
Bank sentral terpantau tetap mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen sejak awal tahun 2025 untuk menjaga keseimbangan pasar. Di sisi lain, suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dinaikkan menjadi 6,41 persen demi memicu kembalinya aliran modal asing ke dalam negeri.
"Langkah dan seterusnya adalah, sebenarnya kami belajar dulu, zaman 1997, 1998, 2008 dulu kan kita banyak fokus untuk stabilitas nilai rupiah, banyak intervensi tidak sadar intervensi ini yang menaikkan instrumen moneter tapi menguras likuiditas. Sehingga, ya mengobati stabilitas nilai rupiah tapi menimbulkan kekeringan likuiditas," ungkap Perry Warjiyo.
Guna mencegah dampak negatif berupa kelangkaan dana di pasar, Bank Indonesia menerapkan strategi kombinasi melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Tercatat, pembelian SBN mencapai Rp 332 triliun pada 2025 dan bertambah Rp 133 triliun sepanjang tahun 2026.
"Kami nggak mau itu. Makanya kami membeli pembelian SBN dari pasar sekunder, sehingga likuiditasnya ngucur lagi, sehingga tahun lalu kami beli Rp 332 triliun, year to date kami lakukan Rp 133 triliun, ini sekaligus ya, untuk satu tujuannya, adalah supaya tidak kekeringan likuiditas," kata Perry Warjiyo.
Pengetatan batasan pembelian dolar Amerika Serikat tanpa keperluan mendasar akan dilakukan secara bertahap oleh bank sentral. Setelah dikurangi dari US$ 100 ribu menjadi US$ 50 ribu pada April lalu, batas tersebut akan kembali dipangkas menjadi US$ 25 ribu per bulan mulai Juni 2026.