PORTALBENGKULU.ID - Iran dilaporkan mengambil langkah strategis dengan menurunkan harga jual minyak mentah mereka demi menarik minat dari pembeli utama di Tiongkok. Langkah ini dilakukan sebagai respons langsung terhadap kondisi pasar yang menantang bagi sektor penyulingan.

Upaya pemangkasan harga ini secara spesifik menargetkan kilang minyak independen Tiongkok, yang dikenal sebagai "teapots," karena mereka mengalami kesulitan operasional yang signifikan. Kilang-kilang ini terpaksa mengurangi tingkat operasional mereka akibat tekanan margin keuntungan yang semakin menipis.

Perubahan harga ini terlihat jelas pada penawaran minyak mentah Iran Light untuk pengiriman bulan Juli mendatang. Harga tersebut kini ditawarkan dengan diskon yang substansial.

Diskon yang ditawarkan dilaporkan melebihi US$1 per barel jika dibandingkan dengan patokan harga minyak mentah global, yaitu ICE Brent. Angka ini berbanding terbalik dengan situasi bulan sebelumnya, di mana Iran sempat menikmati premi harga.

Para pedagang yang aktif di pasar minyak mengonfirmasi perubahan signifikan dalam struktur penetapan harga tersebut. Mereka mencatat bahwa ada penyesuaian yang dilakukan oleh pihak Iran untuk menjaga volume penjualan tetap tinggi.

Selain minyak dari Iran, terdapat juga indikasi bahwa harga minyak mentah Rusia yang dikirim melalui wilayah timur jauh negara tersebut juga mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan adanya tren penurunan harga di segmen minyak mentah yang ditawarkan kepada Asia.

Kilang independen Tiongkok, atau yang populer disebut "teapots," merupakan konsumen utama minyak mentah yang berasal dari Iran. Namun, mereka kini menghadapi tantangan ekonomi yang semakin berat akibat margin keuntungan yang sangat tipis sehingga berpotensi menimbulkan kerugian.

Dilansir dari Bloomberg, "Harga minyak mentah Iran telah dipangkas untuk pembeli China dalam upaya menarik minat kilang minyak independen, yang telah mengurangi tingkat operasional untuk menekan kerugian akibat margin yang semakin tipis," ujar seorang sumber pasar.

Pemerintah Beijing sendiri telah mengeluarkan instruksi kepada kilang-kilang tersebut untuk memaksimalkan produksi bahan bakar dalam segala kondisi yang ada. Instruksi ini bertujuan untuk membantu meredam dampak fluktuasi harga energi akibat konflik yang terjadi di Timur Tengah.