PORTALBENGKULU.ID - Sebanyak 16 biksu yang menjalani ritual jalan kaki Thudong dari Candi Sima Jepara menuju Candi Sewu Klaten harus memutar otak demi menjaga kondisi fisik di tengah cuaca panas ekstrem jalur Pantura Jawa Tengah pada Minggu (24/5/2026). Perjalanan spiritual ini menuntut strategi khusus agar kesehatan para peserta, baik yang paling tua maupun paling muda, tetap terjaga dengan baik.

Dilansir dari Detikcom, sengatan suhu udara yang sangat tinggi di sepanjang koridor Pantura memaksa rombongan untuk menerapkan manajemen energi yang ketat. Langkah taktis ini diambil guna meminimalisasi risiko dehidrasi serta kelelahan fisik yang berlebihan selama perjalanan.

Biksu tertua dalam rombongan ini, Nyanakaruno Mahathera (60 tahun), membagikan solusinya dengan meningkatkan frekuensi waktu istirahat secara berkala di sepanjang rute. Saat beristirahat di Masjid Al Falah Genuk, Kota Semarang, ia mengakui bahwa cuaca kali ini memang sangat menguji ketahanan tubuh.

"Trek kali ini luar biasa menantang karena suhunya sangat panas, sehingga kami harus lebih sering berhenti untuk beristirahat, terutama bagi saya yang paling tua di rombongan ini," kata Nyanakaruno.

Prioritas utama dalam ritual Thudong ini bukanlah kecepatan waktu tempuh, melainkan bagaimana para biksu mengelola energi tubuh mereka secara bijak. Manajemen waktu makan disesuaikan sedemikian rupa agar bertepatan dengan lokasi pemberhentian yang aman.

"Kami tidak mengejar target waktu untuk tiba dengan cepat, yang terpenting adalah kami sudah sampai di tempat peristirahatan saat waktu makan tiba," ucap Nyanakaruno.

Salah satu aturan praktis yang sangat ketat selama ritual jalan kaki ini adalah tata cara hidrasi yang aman bagi tubuh. Para biksu dilarang keras meminum air sambil berdiri dan diwajibkan mencari tempat berteduh terlebih dahulu sebelum meneguk air minum.

"Kami diperbolehkan minum dengan syarat harus duduk terlebih dahulu, sehingga kami wajib berhenti dan mencari tempat berteduh untuk minum," sambung Nyanakaruno.

Di balik tantangan fisik tersebut, motivasi spiritual yang kuat menjadi motor penggerak utama bagi Nyanakaruno untuk menyelesaikan rute ini. Ritual jalan kaki ini juga menjadi sarana untuk menyebarkan pesan perdamaian di tengah berbagai konflik sosial yang terjadi saat ini.