PORTALBENGKULU.ID - Pasar modal Indonesia mengalami tekanan yang cukup signifikan pada sesi penutupan perdagangan di akhir pekan ini. Kondisi tersebut tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berakhir di zona merah dengan koreksi yang cukup dalam.

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat, 8 Mei 2026, indeks domestik menunjukkan tren penurunan yang tajam sepanjang hari. Pelemahan ini menjadi salah satu sorotan utama para pelaku pasar modal dan pengamat ekonomi nasional.

"Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia menunjukkan pelemahan drastis pada penutupan perdagangan hari Jumat, 8 Mei 2026," tulis laporan INFOTREN.ID.

Penurunan indeks ini tercatat mencapai angka yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan posisi pada hari perdagangan sebelumnya. Sentimen negatif yang berasal dari aksi jual investor asing tampaknya menyelimuti lantai bursa sepanjang hari tersebut.

"Indeks tercatat ambruk sebesar 2,86 persen dari penutupan sebelumnya," tulis laporan INFOTREN.ID.

Dampak dari pelemahan yang masif ini membuat IHSG harus turun ke level psikologis yang baru di bawah angka 7.000. Hal ini menandakan adanya dinamika pasar yang dinamis dan tekanan jual yang cukup besar dari para pemegang saham di akhir pekan.

"Penutupan tersebut membawa IHSG terperosok hingga menyentuh level 6.969,39 poin pada akhir pekan tersebut," tulis laporan INFOTREN.ID.

Secara historis, koreksi yang terjadi pada penutupan pekan ini menjadi salah satu momen yang cukup berat bagi pasar saham nasional dalam periode terakhir. Para analis terus memantau pergerakan modal yang keluar dari pasar domestik sebagai bagian dari perkembangan global.

"Koreksi ini menandai salah satu penurunan harian terberat yang dialami pasar saham domestik belakangan ini," tulis laporan INFOTREN.ID.