PORTALBENGKULU.ID - Kuba saat ini tengah menghadapi situasi kritis setelah dilaporkan kehabisan cadangan minyak nasional akibat blokade ketat yang diberlakukan oleh Amerika Serikat. Kelangkaan bahan bakar yang ekstrem ini telah memicu pemadaman listrik secara masif yang melumpuhkan hampir seluruh wilayah di negara kepulauan tersebut.

Kondisi ini mengakibatkan kelumpuhan total pada sektor perekonomian dan keruntuhan infrastruktur domestik Kuba. Berdasarkan data yang dihimpun, Kuba hanya mampu memenuhi kurang dari setengah kebutuhan minyak nasionalnya melalui produksi domestik, yang menyebabkan cadangan resmi mereka terkuras habis, dilansir dari Money.

Di tengah situasi yang mencekam, armada kapal Rusia yang terdiri dari kapal patroli Neustrahimiy, kapal pelatihan Smolniy, dan kapal tanker Yelnya dilaporkan tiba di pelabuhan Havana pada akhir Juli 2024. Kehadiran kapal-kapal tersebut menjadi sorotan internasional di tengah upaya Kuba mencari dukungan energi dari mitra luar negeri.

Dampak langsung dari krisis ini sangat membebani kehidupan sehari-hari warga Kuba, di mana pasokan listrik kini hanya tersedia selama 30 hingga 90 menit per hari. Pemerintah terpaksa mengambil langkah darurat dengan mengalihkan sedikit bahan bakar yang tersisa hanya untuk operasional rumah sakit dan fasilitas publik yang mendesak.

"Kuba saat ini telah kehabisan solar dan bahan bakar minyak sepenuhnya, sementara ketersediaan gas sangat terbatas sehingga sistem energi nasional berada dalam kondisi kritis akibat blokade minyak Amerika Serikat," ujar Menteri Energi Kuba, Vicente de la O Levy.

Krisis energi yang berkepanjangan ini akhirnya memicu gelombang protes dan ketegangan sosial di berbagai wilayah, termasuk ibu kota Havana. Ratusan warga dilaporkan turun ke jalan untuk menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap kondisi hidup yang semakin sulit akibat pemadaman listrik yang tak kunjung usai.

"Jaringan listrik nasional saat ini sepenuhnya bergantung pada minyak mentah domestik, gas alam, serta energi terbarukan setelah pasokan dari kapal tanker Rusia yang tiba pada April lalu telah habis digunakan," kata Vicente de la O Levy menjelaskan kondisi teknis jaringan listriknya.

Meskipun Kuba telah memasang kapasitas tenaga surya sebesar 1.300 megawatt dalam dua tahun terakhir, efisiensinya terganggu oleh ketidakstabilan jaringan listrik. Tanpa dukungan baterai penampung yang memadai, energi surya tersebut belum mampu memberikan pasokan listrik yang stabil bagi warga pada malam hari.

"Kami terus berupaya melakukan negosiasi untuk mengimpor bahan bakar di tengah blokade, namun kenaikan harga minyak global dan biaya transportasi akibat konflik internasional semakin mempersulit posisi kami," ujar Vicente de la O Levy terkait kendala logistik global.