PORTALBENGKULU.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan keterangan resmi mengenai dampak gempa kuat yang berasal dari wilayah Mindanao, Filipina, yang terjadi pada hari Senin, 8 Juni. Getaran gempa tersebut dilaporkan meluas dan dirasakan di berbagai daerah Indonesia dengan tingkat kegoyangan yang bervariasi.

Kepala BMKG, Teuku Faisal, menjadi narasumber utama dalam konferensi pers yang diselenggarakan secara daring untuk menjelaskan temuan analisis mengenai skala guncangan yang terdeteksi di Indonesia. Fokus utama penjelasan adalah pada wilayah-wilayah yang berada paling dekat dengan pusat gempa di perbatasan kedua negara.

Menurut hasil observasi BMKG, daerah yang mengalami tingkat guncangan paling signifikan berada tepat di zona perbatasan antara Indonesia dan Filipina. Wilayah-wilayah ini mencatat intensitas getaran tertinggi berdasarkan skala Modified Mercalli Intensity (MMI).

Teuku Faisal secara spesifik menyoroti bahwa intensitas tertinggi yang berhasil dicatat mencapai skala V MMI di beberapa lokasi. Skala ini mengindikasikan dampak yang cukup signifikan terhadap struktur bangunan dan kenyamanan penduduk setempat.

"Untuk intensitas tertinggi yang tercatat, yakni skala V MMI, getaran dirasakan oleh semua penduduk, plester dinding jatuh, dan cerobong asap pada pabrik rusak. Ini terjadi di Miangas dan Melonguane," kata Teuku Faisal.

Lebih lanjut, BMKG juga mencatat adanya intensitas guncangan pada level yang lebih rendah, yaitu skala IV MMI, yang juga dirasakan di beberapa pulau di Indonesia bagian utara. Skala ini menunjukkan tingkat getaran yang dirasakan oleh mayoritas warga.

Teuku menjelaskan bahwa pada intensitas IV MMI, getaran dirasakan hampir oleh seluruh penduduk yang berada di lokasi tersebut. Selain itu, efek yang terlihat adalah pergeseran atau terpelantingnya barang-barang ringan.

"Ia menjelaskan, intensitas IV MMI tercatat di Siau dan Tahulandang," ujar Teuku Faisal.

Ia melanjutkan penjelasan mengenai dampak yang terjadi pada skala tersebut, yang menunjukkan adanya pergerakan benda-benda di sekitar lokasi terdampak. Bahkan, struktur bangunan yang kurang kokoh ikut menunjukkan goyangan.