PORTALBENGKULU.ID - Pasar modal Indonesia mengawali pekan dengan dinamika yang cukup berat pada perdagangan Senin (18/5/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau bergerak fluktuatif sejak pembukaan hingga akhirnya harus menyerah di zona merah pada penutupan sore hari.

Berdasarkan data dari IDX Mobile, indeks kebanggaan bursa domestik ini merosot tajam sebesar 1,85 persen atau kehilangan 124,08 poin. Pergerakan ini membawa IHSG mendarat di level 6.599,24 setelah sempat menyentuh titik terendah di posisi 6.398,79 selama sesi berlangsung.

Kondisi pasar yang cukup volatil ini dilansir dari Market, dipicu oleh sentimen negatif akibat proses penyesuaian bobot indeks atau rebalancing MSCI. Selain itu, tekanan jual semakin diperparah oleh fluktuasi nilai tukar rupiah yang menunjukkan tren melemah terhadap dolar Amerika Serikat.

Meskipun indeks terkoreksi, aktivitas transaksi di lantai bursa tetap menunjukkan likuiditas yang tinggi dengan nilai mencapai Rp20,57 triliun. Sebanyak 29,77 miliar lembar saham berpindah tangan, di mana tercatat 647 saham mengalami penurunan harga dan hanya 129 saham yang berhasil menguat.

Sektor pertambangan dan komoditas menjadi beban utama bagi indeks LQ45 setelah sejumlah saham unggulan rontok. Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) memimpin pelemahan dengan anjlok 11,76 persen, diikuti oleh penurunan signifikan pada saham HRTA dan ANTM.

Di tengah aksi jual yang masif, saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) muncul sebagai penyelamat dengan kenaikan sebesar 4,05 persen. Selain itu, saham Medco Energi (MEDC) dan Bukit Asam (PTBA) juga turut menghijau, memberikan sedikit napas bagi indeks dari kejatuhan yang lebih dalam.

"Kekecewaan pasar global saat ini dipicu oleh hasil pertemuan antara Presiden Trump dan Presiden Xi yang berakhir tanpa kesepakatan besar, ditambah eskalasi konflik AS-Iran yang diprediksi membayangi bursa," papar tim riset Phintraco Sekuritas.

"Pelaku pasar di Amerika Serikat juga sedang mengantisipasi rilis laporan keuangan Nvidia serta notulen rapat FOMC untuk mencari petunjuk kebijakan suku bunga setelah inflasi AS berada di atas perkiraan," tambah tim riset Phintraco Sekuritas.

Dari sisi domestik, para investor kini sedang memusatkan perhatian pada agenda Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Bank sentral diproyeksikan akan tetap mempertahankan tingkat suku bunga BI Rate di level 4,75 persen dalam pengumuman resminya mendatang.