PORTALBENGKULU.ID - Aktivitas perdagangan di pusat tekstil legendaris, Pasar Cipadu, Kota Tangerang, terpantau mengalami kelesuan yang cukup mendalam. Pada Kamis (16/4/2026), para pedagang melaporkan adanya penyusutan omzet yang mencapai lebih dari 70 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Fenomena ini dipicu oleh perubahan fundamental pola belanja masyarakat yang kini lebih memilih platform daring. Selain itu, dampak ekonomi pascapandemi yang belum pulih sepenuhnya turut memperberat beban para pelaku usaha di kawasan tersebut.
Kondisi eksternal juga memberikan tekanan tambahan bagi stabilitas harga kain di tingkat peritel lokal. Dilansir dari Detik Finance, kenaikan harga bahan baku tekstil global yang dipicu oleh krisis di Timur Tengah menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan bisnis para pedagang.
"Awal kekacauan pasar ini bermula dari pandemi COVID-19 yang kemudian diperparah oleh maraknya sistem belanja daring yang memungkinkan konsumen membeli barang sambil bersantai di rumah," ujar Muklis.
Muklis, yang telah berdagang sejak awal tahun 2000, menjelaskan bahwa penurunan daya beli juga merambah ke sektor industri. Pesanan kain untuk seragam pabrik yang biasanya menjadi tumpuan pendapatan kini mengalami penurunan frekuensi yang sangat signifikan.
"Persoalan utamanya terletak pada kondisi ekonomi kita, di mana pesanan seragam pabrik yang biasanya rutin setahun dua kali kini menyusut menjadi tiga tahun sekali demi efisiensi," jelas Muklis.
Kelesuan ini terlihat nyata dari sepinya pengunjung yang berlalu-lalang di lorong-lorong pasar. Para pedagang kini cenderung bersikap pasif dan hanya mengandalkan komunikasi jarak jauh untuk menjaga hubungan dengan pelanggan lama mereka.
"Kondisi pasar saat ini sangat sepi dibandingkan dulu yang ramai orang berlalu-lalang, sehingga sekarang kami hanya bisa mengandalkan pesanan dari pelanggan tetap melalui pesan singkat," tambah Muklis.
Untuk menghadapi ketidakpastian ini, banyak pelaku usaha yang terpaksa mengambil langkah efisiensi ekstrem. Salah satu strategi yang diambil adalah dengan menutup sebagian gerai guna menekan biaya operasional yang terus membengkak.