PORTALBENGKULU.ID - Stadion Hernando Siles di La Paz, Bolivia, bersiap menjadi saksi perjuangan berat Fluminense dalam lanjutan fase grup Copa Libertadores 2026. Berada di ketinggian ekstrem lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut, laga melawan Bolivar pada Kamis malam, 30 April 2026, ini menjadi ujian fisik yang nyata bagi wakil Brasil tersebut.
Klub berjuluk Tricolor itu datang dengan beban cukup berat karena saat ini masih tertahan di posisi terbawah klasemen sementara Grup C. Dengan raihan hanya satu poin dari dua pertandingan awal, kemenangan menjadi harga mati bagi Fluminense demi menjaga asa melaju ke babak 16 besar.
Di tengah tekanan klasemen, sorotan khusus tertuju pada sosok kiper veteran mereka, Fabio, yang berpeluang mengukir sejarah besar di Amerika Selatan. Pemain berusia 45 tahun tersebut diprediksi akan melampaui rekor legenda Olimpia, Ever Almeida, sebagai pemain dengan jumlah penampilan terbanyak sepanjang sejarah kompetisi ini.
"Saya sangat bahagia dengan momen individu saat ini dan bisa membantu tim, namun tetap rendah hati untuk selalu berkontribusi bagi Fluminense. Kami menyadari sulitnya pertandingan ini, tetapi grup sangat percaya diri dan fokus untuk tampil maksimal dengan menjaga penguasaan bola demi menghindari kelelahan fisik serta mencari peluang penyelesaian akhir," ujar Hercules.
Strategi penguasaan bola yang ditekankan oleh sang gelandang bertahan tersebut menjadi sangat krusial mengingat tipisnya kadar oksigen di dataran tinggi La Paz. Dilansir dari data Transfermarkt, terdapat perbedaan nilai pasar yang sangat mencolok antara kedua kesebelasan yang akan bertanding malam nanti.
Gelandang andalan Fluminense, Martinelli, diketahui memiliki nilai pasar mencapai 16 juta euro atau sekitar Rp277 miliar. Angka tersebut bahkan secara mengejutkan 45 persen lebih tinggi dibandingkan total nilai seluruh skuat Bolivar yang hanya berkisar di angka 11 juta euro.
Meski secara nilai pasar tertinggal jauh, Bolivar tetap dikenal sebagai tim yang sangat tangguh dan sulit ditaklukkan saat bermain di kandang sendiri. Faktor geografis seringkali menjadi senjata utama mereka untuk meredam tim-tim bertabur bintang yang tidak terbiasa dengan atmosfer dataran tinggi.
Sejauh ini, perjalanan Fluminense di fase grup memang belum memuaskan setelah mencatatkan satu hasil imbang dan satu kekalahan. Pertandingan di markas Bolivar ini akan menjadi pembuktian apakah kematangan mental pemain senior seperti Fabio mampu mengatasi tantangan alam dan teknis di lapangan.