PORTALBENGKULU.ID - Perubahan signifikan tengah terjadi dalam peta kebutuhan tenaga kesehatan spesialis di Indonesia, sejalan dengan transformasi struktur demografi dan pola penyakit masyarakat. Kementerian Kesehatan kini melihat adanya pergeseran prioritas, di mana kebutuhan akan dokter spesialis penyakit dalam mulai melampaui kebutuhan dokter spesialis anak.

Hal ini merupakan respons langsung terhadap data populasi terbaru yang menunjukkan peningkatan signifikan pada kelompok usia lanjut (lansia). Kementerian Kesehatan (Kemenkes) secara rutin melakukan perhitungan kebutuhan tenaga medis berdasarkan proyeksi populasi dan tren penyakit yang berkembang.

Perhitungan strategis ini tidak hanya melihat kondisi saat ini saja, melainkan juga digunakan untuk menyusun peta kebutuhan tenaga kesehatan yang lebih terarah untuk satu dekade mendatang. Ini menunjukkan perencanaan kesehatan jangka panjang yang adaptif terhadap dinamika penduduk.

Kondisi demografi Indonesia hari ini sangat berbeda dibandingkan beberapa dekade silam ketika jumlah balita masih mendominasi komposisi penduduk. Dulu, fokus utama memang tertuju pada pemenuhan kebutuhan dokter spesialis anak untuk melayani populasi usia dini tersebut.

Namun, situasi telah berubah drastis, di mana di banyak wilayah, jumlah penduduk lansia kini telah melampaui jumlah balita. Perubahan ini menuntut penyesuaian fokus layanan kesehatan dari pediatri menuju penanganan penyakit degeneratif.

"Kalau dulu Indonesia lebih banyak balita sehingga dibutuhkan lebih banyak dokter anak, sekarang lansia itu sudah di beberapa kabupaten/kota lebih banyak dari balita. Otomatis spesialis penyakit dalam itu dibutuhkan lebih banyak daripada spesialis anak atau spesialis obgyn," kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat Rapat Kerja Komisi X di Jakarta pada Senin (08/06).

Selain perubahan usia penduduk, pola penyakit yang dihadapi masyarakat juga ikut mengalami evolusi seiring bertambahnya usia rata-rata penduduk. Penyakit yang dahulu tergolong jarang kini mulai menunjukkan prevalensi yang meningkat tajam di tengah masyarakat.

Penyakit-penyakit yang erat kaitannya dengan penuaan, seperti demensia, penyakit Alzheimer, dan Parkinson, semakin sering ditemukan kasusnya. Hal ini secara langsung meningkatkan urgensi ketersediaan dokter spesialis penyakit dalam yang mumpuni.

Dikutip dari Bloomberg Technoz, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa kebutuhan tenaga dokter spesialis telah mengalami pergeseran seiring perubahan struktur demografi dan pola penyakit masyarakat.