PORTALBENGKULU.ID - Kantor Cabang Bulog Parepare di Sulawesi Selatan mengambil langkah taktis dengan menyewa 16 unit gudang milik mitra swasta pada Selasa (28/4/2026). Kebijakan ini diberlakukan setelah fasilitas penyimpanan internal milik pemerintah mengalami kelebihan kapasitas akibat lonjakan stok yang signifikan.

Saat ini, total persediaan beras yang dikelola oleh Bulog Parepare telah menembus angka 150.000 ton. Kapasitas gudang internal sudah tidak lagi memadai untuk menampung kiriman beras yang terus berdatangan dari para petani di wilayah tersebut.

"Gudang Bulog yang kami kuasai saat ini sudah full semua. Jadi kami ada sewa gudang, ada juga yang pinjam pakai dari gudang mitra untuk diisikan beras. Total ada 16 unit gudang tambahan dan itu sudah full semua juga," kata Pimpinan Cabang Bulog Parepare, Rahmi Mangeran.

Dilansir dari Detikcom, penyewaan fasilitas tambahan ini direncanakan akan berlangsung selama satu tahun ke depan. Langkah tersebut dipandang perlu untuk menjamin seluruh stok beras tetap tersimpan dengan aman dan terlindungi dari kerusakan.

"Kita sewa gudang selama 1 tahun. Untuk masa berjalannya itu bervariasi. Karena mulai sewanya juga bervariasi," jelas Rahmi Mangeran.

Lokasi gudang tambahan ini tersebar di beberapa titik strategis di Sulawesi Selatan, khususnya di daerah yang menjadi sentra produksi pangan. Bulog menerapkan sistem manajemen stok yang dinamis untuk memastikan efisiensi ruang penyimpanan yang ada.

"Gudangnya tersebar, ada yang di Pinrang dan ada di Sidrap. Rata-rata gudang itu kami sewa dari pihak swasta. Polanya, nanti kalau ada stok yang keluar untuk penyaluran, baru gudang-gudang itu kita isi lagi dengan serapan baru," tutur Rahmi Mangeran.

Fenomena penumpukan stok ini merupakan dampak langsung dari masa panen raya yang tengah berlangsung di berbagai wilayah Sulawesi Selatan. Hingga saat ini, aliran gabah dan beras dari petani masih terus mengalir masuk ke sistem logistik Bulog.

"Aktivitas pemasukan masih terus berlangsung. Kami masih aktif melakukan penyerapan gabah dan beras petani sampai saat ini. Perkiraan kami, tren penyerapan ini mungkin akan mulai landai di pertengahan Mei mendatang," ungkap Rahmi Mangeran.