PORTALBENGKULU.ID - Rencana besar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) untuk menutup sejumlah program studi (prodi) dalam waktu dekat memicu gelombang diskusi di kalangan akademisi. Kebijakan ini diambil sebagai langkah efisiensi terhadap penyelenggaraan pendidikan tinggi di tanah air.

Salah satu suara kritis datang dari pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS Surabaya), Achmad Hidayatullah. Ia menilai langkah tersebut memerlukan kajian yang jauh lebih mendalam sebelum benar-benar dieksekusi oleh pemerintah.

Achmad menekankan pentingnya kehati-hatian agar kebijakan ini tidak menjadi langkah yang keliru dalam membenahi fondasi pendidikan nasional. Baginya, penutupan prodi menyentuh aspek paling mendasar dalam ekosistem pembelajaran di Indonesia.

"Rencana ini perlu dikaji lebih mendalam agar tidak menimbulkan kebijakan yang keliru, sebab ini menyangkut persoalan mendasar pendidikan kita," ujar Achmad Hidayatullah dilansir dari laman resmi Umsura pada Senin, 27 April 2026.

Kritik ini muncul sebagai respons terhadap pernyataan Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek, Prof. Badri Munir Sukoco, yang menyebut adanya kelebihan pasokan (oversupply) lulusan. Kondisi ini terutama disoroti pada lulusan dari program studi pendidikan yang dianggap sudah terlalu banyak.

Namun, Achmad menilai

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: Infonasional. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.