PORTALBENGKULU.ID - Insiden kecelakaan fatal yang melibatkan kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek dan rangkaian KRL terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Selasa (28/4/2026) malam. Peristiwa tragis ini mengakibatkan tujuh penumpang dilaporkan meninggal dunia, sementara 81 orang lainnya harus menjalani perawatan medis akibat luka-luka.
Benturan keras tersebut menyebabkan kerusakan yang sangat parah pada gerbong paling belakang KRL yang merupakan area khusus penumpang wanita. Dilansir dari Detikcom, kekuatan hantaman dari lokomotif KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan hingga menembus badan gerbong KRL tersebut.
Berdasarkan rekaman visual di lokasi kejadian, kondisi gerbong belakang KRL tampak hancur total akibat tabrakan tersebut. Para penumpang yang berada di dalam rangkaian kereta sempat mengalami kepanikan luar biasa dan berusaha menyelamatkan diri dengan memecahkan kaca jendela.
"Gerbong yang tertabrak adalah gerbong paling belakang, yang merupakan gerbong khusus wanita," ujar Andi, salah satu korban selamat yang berada di lokasi kejadian.
Saksi mata lainnya, Rendi Pangestu, menceritakan bahwa guncangan hebat terjadi secara tiba-tiba saat ia sedang berada di dalam KRL dari arah Manggarai. Kekuatan tabrakan tersebut membuat para penumpang terpental dari tempat duduk mereka.
"Saat saya sedang berbincang dengan seorang kakek, tiba-tiba terjadi guncangan hebat akibat tabrakan kereta yang terasa sangat kencang hingga penumpang di gerbong tengah pun ikut terpental," kata Rendi Pangestu.
Pihak kepolisian melaporkan bahwa rentetan peristiwa ini diduga berawal dari sebuah taksi yang mogok di tengah rel pada pukul 20.50 WIB. Insiden taksi yang tertemper KRL di perlintasan tersebut diduga memicu gangguan operasional sistem perkeretaapian.
Manajemen Green SM Indonesia selaku penyedia armada taksi menyatakan bahwa pihaknya akan bersikap kooperatif selama proses penyelidikan berlangsung. Pernyataan resmi tersebut disampaikan oleh perusahaan melalui kanal media sosial mereka.
"Pihak Green SM Indonesia memberikan perhatian penuh terhadap insiden di perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026 yang melibatkan salah satu kendaraan kami dengan kereta api," tulis pihak manajemen Green SM Indonesia.