PORTALBENGKULU.ID - Pasar gas alam global kini tengah menghadapi tantangan ganda yang sangat sulit diprediksi, yaitu dinamika permintaan dari Tiongkok dan perubahan pola cuaca di kawasan Asia. Para pelaku pasar sedang memantau ketat bagaimana kedua faktor ini akan berinteraksi dengan kondisi pasokan yang sudah terganggu.

Gangguan signifikan telah terjadi pada jalur pelayaran krusial di Selat Hormuz, yang praktis menyebabkan hambatan pada hampir seperlima dari total pasokan LNG dunia selama hampir tiga bulan terakhir. Meskipun demikian, lonjakan harga ekstrem seperti krisis energi sebelumnya belum terjadi saat ini.

Penyebab utama belum adanya lonjakan harga ekstrem tersebut adalah lemahnya volume impor gas alam cair oleh Tiongkok selama bulan Maret dan April. Tiongkok, sebagai konsumen LNG terbesar di dunia, memiliki peran sentral dalam menentukan keseimbangan permintaan global.

Namun, tanda-tanda pemulihan aktivitas pembelian oleh Tiongkok kini mulai terlihat, yang berpotensi meningkatkan persaingan global secara signifikan. Situasi ini menjadi perhatian khusus karena Eropa juga tengah berupaya mengisi kembali cadangan gasnya menjelang musim dingin yang akan datang.

Faktor cuaca juga menjadi variabel penting, di mana prakiraan musim panas Asia menunjukkan potensi suhu yang lebih tinggi dari rata-rata normal. Jika pola cuaca El Niño semakin menguatkan tren pemanasan ini, permintaan untuk energi pendingin udara akan melonjak drastis.

Peningkatan kebutuhan pendingin udara ini secara langsung akan membebani jaringan listrik, terutama saat harga energi secara umum sudah berada pada tingkat yang tinggi. Risiko terbesar terletak pada potensi gelombang panas yang memicu lonjakan permintaan LNG yang kuat dari Tiongkok.

Mengenai dampak dari hambatan di Timur Tengah, seorang analis energi memberikan pandangan bahwa efek penuh dari penutupan Selat Hormuz belum sepenuhnya dirasakan pasar. "Dampak penuh dari penutupan Selat Hormuz belum terasa karena kita masih berada pada periode transisi dengan permintaan yang relatif rendah," kata Saul Kavonic, analis energi di MST Marquee.

Lebih lanjut, Saul Kavonic memberikan proyeksi mengenai potensi kenaikan harga jika situasi geopolitik tidak membaik. "Harga LNG dapat naik hingga 50% lagi sampai Agustus jika selat tersebut tetap sebagian besar tertutup," ujar Saul Kavonic.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa stabilitas harga gas global kini sangat bergantung pada resolusi konflik di Timur Tengah serta bagaimana Asia, khususnya Tiongkok, merespons lonjakan suhu musim panas. Dilansir dari Bloomberg News, situasi ini memerlukan pemantauan pasar yang ketat.