PORTALBENGKULU.ID - Bank Indonesia (BI) baru-baru ini mengumumkan perkembangan terkini mengenai kondisi moneter di Indonesia. Pengumuman tersebut berfokus pada perlambatan laju pertumbuhan uang primer atau yang juga dikenal sebagai basis moneter.
Perkembangan ini menjadi sorotan utama karena secara langsung mencerminkan dinamika likuiditas yang ada dalam sistem perekonomian nasional saat ini. Data resmi mengenai hal ini dirilis oleh Bank Indonesia pada hari Senin, 8 Juni 2026.
Apa yang terjadi adalah adanya penurunan laju pertumbuhan uang primer secara tahunan (year on year/yoy) pada bulan Mei 2026. Angka yang dicatatkan menunjukkan pertumbuhan sebesar 14,2 persen sepanjang tahun tersebut.
Angka pertumbuhan 14,2 persen ini sedikit lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya. Hal ini menunjukkan adanya sedikit perlambatan dalam ekspansi basis moneter di Indonesia pada bulan tersebut.
Pertumbuhan uang primer yang tercatat pada bulan April 2026 sebelumnya sempat berada pada level yang lebih tinggi. Angka pertumbuhan pada bulan April tercatat mencapai 14,3 persen secara tahunan.
Perlambatan pertumbuhan ini mengindikasikan adanya perubahan dalam manajemen likuiditas oleh otoritas moneter. Perubahan ini perlu dicermati untuk memahami dampaknya terhadap ketersediaan dana di pasar finansial.
Dikutip dari Portal7.co.id, Bank Indonesia mengumumkan bahwa data resmi mengenai perlambatan pertumbuhan uang primer dirilis pada Senin, 8 Juni 2026. Informasi ini memberikan gambaran mengenai kondisi likuiditas perekonomian nasional.
"Data resmi yang dirilis pada Senin, 8 Juni 2026, menunjukkan adanya dinamika baru dalam likuiditas perekonomian nasional," demikian disampaikan dalam sumber berita tersebut.
Perlambatan ini terlihat dari angka pertumbuhan tahunan (year on year/yoy) uang primer yang tercatat sebesar 14,2 persen pada Mei 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan capaian bulan sebelumnya, April 2026, yang sempat tumbuh pada level 14,3 persen, jelas sumber tersebut.