PORTALBENGKULU.ID - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat secara resmi memberikan dukungan penuh terhadap kedaulatan diplomatik Taiwan sebagai mitra global yang dapat diandalkan. Penegasan ini muncul setelah Presiden Taiwan, Lai Ching-te, melakukan kunjungan kenegaraan ke Kerajaan Eswatini pada Sabtu, 2 Mei 2026.
Langkah diplomatik ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan setelah pihak Taipei melaporkan adanya upaya intervensi dari Tiongkok terkait izin ruang udara pesawat kepresidenan. Amerika Serikat menilai bahwa eksistensi Taiwan di kancah internasional memberikan kontribusi yang sangat positif bagi stabilitas global.
Pemerintah Amerika Serikat memandang kolaborasi internasional yang dibangun oleh Taiwan membawa manfaat nyata bagi banyak negara, termasuk di kawasan Afrika. Hubungan bilateral antara Taipei dan Eswatini tetap kokoh meskipun berada di bawah bayang-bayang tekanan politik yang masif dari Beijing.
"Taiwan adalah mitra tepercaya dan mumpuni bagi Amerika Serikat dan banyak negara lainnya, dan hubungannya di seluruh dunia memberikan manfaat signifikan bagi warga negara-negara tersebut, termasuk Eswatini," ungkap seorang juru bicara Departemen Luar Negeri AS sebagaimana dilansir dari Miami Herald.
Washington juga menggarisbawahi bahwa perjalanan lintas negara yang dilakukan oleh Presiden Lai merupakan sebuah aktivitas kenegaraan yang wajar. Praktik ini telah dilakukan secara rutin oleh pemimpin-pemimpin Taiwan terdahulu, termasuk Tsai Ing-wen pada tahun 2018 dan 2023 silam.
"Perjalanan ini adalah hal rutin dan tidak seharusnya dipolitisasi," tegas juru bicara Departemen Luar Negeri AS tersebut.
Saat ini, Eswatini tercatat sebagai satu-satunya sekutu diplomatik formal Taiwan di benua Afrika dari total 12 negara di dunia yang masih memberikan pengakuan resmi. Posisi ini menjadi sangat strategis mengingat dominasi ekonomi Tiongkok yang kian meluas di berbagai wilayah Benua Hitam.
Kunjungan kepresidenan tersebut memicu reaksi keras dari pemerintah Tiongkok yang secara konsisten menolak pengakuan kedaulatan Taiwan. Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, bahkan dilaporkan telah memberikan peringatan khusus kepada Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengenai sensitivitas isu ini.
Pihak Beijing melontarkan hinaan tajam dengan mengibaratkan perjalanan tersebut sebagai "tikus yang berlarian menyeberang jalan" merujuk pada penggunaan pesawat pemerintah Eswatini oleh Presiden Lai, sebagaimana dilansir dari sumber berita terkait.