PORTALBENGKULU.ID - Kementerian Kesehatan RI memberikan klarifikasi resmi mengenai laporan kematian seorang pasien akibat infeksi hantavirus di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung pada Rabu (20/5/2026). Pemerintah menegaskan bahwa peristiwa medis tersebut merupakan kasus lama yang terjadi pada tahun 2025 dan bukan merupakan tanda munculnya wabah baru.

Langkah klarifikasi ini sengaja diambil oleh otoritas kesehatan demi meredam kepanikan dan simpang siur informasi di tengah masyarakat sosial media. Dilansir dari Detikcom, pihak kementerian juga memastikan bahwa temuan di Bandung tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan kasus hantavirus jenis Andes virus yang sempat ramai di kapal pesiar MV Hondius.

Berdasarkan data medis, pasien yang meninggal dunia tersebut merupakan seorang pria berusia 49 tahun yang berprofesi sebagai buruh bangunan asal Cibeunying Kolot, Kota Bandung. Sebelum dilarikan ke RSHS Bandung, pasien dilaporkan telah mengalami gejala demam naik-turun selama enam hari berturut-turut yang disertai nyeri perut kanan atas, mata menguning, urine pekat, mual, serta muntah.

Kondisi fisik pasien terus mengalami kemerosotan yang signifikan sesampainya di rumah sakit dengan keluhan tambahan berupa sesak napas akut. Melalui pemeriksaan penunjang berupa rontgen dada dan USG, tim dokter mendiagnosis adanya komplikasi bronkopneumonia serta pembesaran pada organ jantung pasien.

Memasuki hari kedua masa perawatan, tim medis RSHS Bandung berupaya melakukan tindakan penyelamatan darurat karena kondisi pasien yang terus memburuk hingga fase kritis. Namun, upaya penanganan intensif tersebut terhambat akibat tidak adanya persetujuan dari pihak keluarga pasien.

"Saat kami memberikan edukasi mengenai perlunya tindakan intubasi, pihak keluarga menyatakan penolakan. Pada akhirnya, pasien tidak dapat tertolong dan meninggal dunia," kata Dokter spesialis penyakit dalam RSHS, Elisabeth Hutajulu.

Hasil pemeriksaan laboratorium lanjutan kemudian mengungkap bahwa pasien mengalami infeksi ganda fatal yang menyerang fungsi organ tubuhnya secara bersamaan. Selain terpapar hantavirus, pasien juga terinfeksi bakteri leptospirosis yang memicu sindrom Weil, syok sepsis, hingga gagal ginjal akut stadium 3.

"Hasil pengujian laboratorium memastikan pasien positif terinfeksi hantavirus sekaligus bakteri leptospirosis. Kondisi ganda inilah yang memicu penurunan drastis trombosit serta lonjakan indikator infeksi," ucap Dokter spesialis penyakit dalam RSHS, Elisabeth Hutajulu.

Guna mencegah kekhawatiran massal, Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk memahami perbedaan klinis dari setiap jenis hantavirus. Kasus yang ditemukan di Bandung tergolong tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dengan tingkat kematian berkisar antara 5 hingga 15 persen, sangat berbeda dengan tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan dapat menular antarmanusia.