PORTALBENGKULU.ID - Masyarakat Jawa masih menggunakan kalender Jawa sebagai panduan penting untuk menetapkan hari baik, menyusun rencana acara besar, hingga memahami watak seseorang lewat weton. Perhitungan tradisional ini memadukan berbagai siklus langit.

Sistem penanggalan Jawa memiliki kemiripan dengan kalender Hijriah karena sama-sama mengandalkan perhitungan lunar atau qamariyah. Perbedaan mendasar terletak pada momen pergantian hari yang dimulai saat matahari terbenam atau bakda magrib.

Dilansir dari Detikcom, sistem kalender Jawa memiliki kemiripan dengan kalender Hijriah karena sama-sama mengandalkan perhitungan lunar atau qamariyah.

Penanggalan Jawa mengombinasikan hari masehi dengan lima siklus pasaran, yaitu Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi. Pertemuan antara hari dan pasaran ini menghasilkan weton yang diyakini membawa makna spiritual tersendiri.

Kombinasi tersebut kerap menjadi acuan dalam menetapkan waktu pelaksanaan pernikahan, prosesi pindah rumah, hingga ritual adat lainnya. Berikut rincian penanggalan untuk Sabtu 30 Mei 2026: Kalender Hijriah: 13 Zulhijah 1447 H.

Perhitungan neptu untuk weton Sabtu Pahing berjumlah 18. Angka ini didapatkan dari penjumlahan nilai hari Sabtu yang berangka 9 dan nilai pasaran Pahing yang juga berangka 9.

Seseorang yang lahir pada Sabtu Pahing emosinya cenderung mudah tersulut. Meski demikian, karakter ini memiliki kelebihan berupa kemampuan untuk melupakan kemarahan dengan sangat cepat.

Individu dengan weton ini juga mempunyai semangat hidup yang tinggi, walau terkadang memicu tindakan ceroboh. Dalam urusan materi mereka cenderung lebih waspada, serta dikenal ringan tangan dalam menolong teman yang kesusahan.

Sepanjang Mei 2026, penanggalan Jawa mencakup dua bulan penting, yaitu Selo selaku bulan ke-11 dan Besar sebagai bulan ke-12. Periode ini diawali pada 1 Mei 2026 yang bertepatan dengan Jumat Pon 14 Selo 1959.