PORTALBENGKULU.ID - Ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Kota Palangka Raya, dilaporkan mengalami tekanan inflasi yang cukup signifikan pada periode Mei 2026. Situasi ini menempatkan Palangka Raya sebagai wilayah dengan laju inflasi tertinggi di seluruh kabupaten/kota di provinsi tersebut.
Tingginya laju inflasi ini dipicu oleh beberapa faktor utama yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Secara khusus, kenaikan harga pada komoditas pangan pokok dan perubahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis non-subsidi menjadi kontributor utama lonjakan Indeks Harga Konsumen (IHK).
Data resmi yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat inflasi yang tercatat di Palangka Raya pada bulan Mei 2026 mencapai angka 0,70 persen. Angka ini menjadi yang tertinggi dibandingkan dengan wilayah lain di Kalimantan Tengah pada periode yang sama.
Sebagai perbandingan, Kabupaten Sukamara berada di posisi kedua dengan mencatatkan inflasi sebesar 0,63 persen. Sementara itu, Sampit menyusul dengan laju inflasi yang lebih rendah, yaitu sebesar 0,42 persen pada bulan Mei 2026.
Menariknya, terdapat satu wilayah di Kalteng yang justru menunjukkan tren berbeda, yaitu Kabupaten Kapuas. Kabupaten Kapuas berhasil mencatatkan kondisi deflasi, dengan angka minus 0,32 persen pada periode yang sama.
Kenaikan inflasi di ibukota provinsi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan sehari-hari. Kenaikan harga BBM non-subsidi seringkali memiliki efek domino terhadap biaya logistik dan distribusi barang.
Kondisi ini menunjukkan adanya disparitas ekonomi antarwilayah di Kalimantan Tengah selama bulan Mei 2026. Meskipun Palangka Raya mengalami kenaikan harga, Kapuas mampu menekan laju inflasi hingga mengalami kontraksi harga.
Dilansir dari PORTAL7.CO.ID, Kota Palangka Raya, sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi Kalteng, menghadapi tantangan ekonomi serius setelah mencatatkan tingkat inflasi tertinggi di provinsi tersebut pada periode Mei 2026. Lonjakan harga ini terutama didorong oleh kenaikan pada komoditas pangan pokok dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis non-subsidi.
Dikutip dari BPS, tingkat inflasi di Palangka Raya mencapai angka 0,70 persen pada bulan tersebut, melampaui Kabupaten Sukamara yang mencatat inflasi 0,63 persen dan Sampit dengan inflasi 0,42 persen. Hal ini menunjukkan fluktuasi harga yang perlu segera ditangani oleh pemangku kepentingan terkait.