PORTALBENGKULU.ID - Pasar saham Indonesia mengalami penurunan pada akhir pekan, dengan IHSG menutup di level 6.127. Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk penurunan harga saham perbankan dan energi.

Penurunan IHSG ini juga dipengaruhi oleh penurunan harga saham perbankan, dengan saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BBTN memimpin penurunan di sektor keuangan dengan merosot sebesar 5,22 persen.

Saham PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA juga melemah 4,60 persen, sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI turun 3,91 persen. "Penurunan harga saham perbankan ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan penurunan IHSG" ujar analis pasar.

Koreksi juga melanda PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BBNI sebesar 3,65 persen, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI yang ikut terkoreksi sebesar 1,21 persen. Penurunan ini menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia masih sangat rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi.

Dilansir dari Detik Finance, data RTI pada Jumat (29/5/2026) menunjukkan IHSG mantap di posisi 6.127 atau mengalami koreksi tipis sebesar 2 poin yang setara dengan 0,05 persen. Catatan ini sejalan dengan posisi pembukaan yang juga berada di level 6.127.

Pergerakan indeks pada hari ini mencatatkan fluktuasi yang cukup dinamis. IHSG sempat merangkak naik hingga menyentuh titik tertinggi pada level 6.230, sebelum akhirnya melorot ke level terendah di angka 6.111 menjelang momen penutupan bursa.

Aktivitas perdagangan di pasar modal Indonesia membukukan nilai transaksi yang sangat besar, yakni mencapai Rp 49,94 triliun. Volume perdagangan tersebut melibatkan 46,96 miliar lembar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 2,37 juta kali.

Peta pergerakan saham pada perdagangan kali ini didominasi oleh tren penurunan. Tercatat sebanyak 409 saham bergerak melemah, sementara 271 saham berhasil menguat, dan 137 saham lainnya tidak mengalami perubahan posisi atau stagnan.

Penurunan IHSG ini juga berdampak pada indeks saham-saham likuid atau LQ45. Sejumlah saham perbankan raksasa pelat merah maupun swasta terpantau mengalami penurunan harga yang cukup signifikan.