PORTALBENGKULU.ID - Aparat Polrestabes Surabaya berhasil mengungkap jaringan penipuan daring berskala internasional yang beroperasi di sebuah hunian mewah kawasan Dharmahusada Permai pada Jumat (8/5/2026). Sindikat tersebut diduga telah menjalankan aksinya sejak tahun 2025 dengan menargetkan warga negara asing di luar negeri sebagai korban utama.

Dilansir dari Detikcom, markas yang digunakan kelompok ini telah disewa oleh seorang koordinator berkewarganegaraan Indonesia berinisial E sejak akhir tahun 2024. Penyelidikan kepolisian menunjukkan bahwa aktivitas kriminal baru dimulai secara aktif setahun setelah masa sewa berjalan.

"Saudara E menyampaikan bahwa yang bersangkutan sudah menyewa rumah di Dharmahusada Permai sejak September 2024. Namun, dari pemeriksaan para pelaku, mereka mulai beroperasi sejak 2025," ujar Kombes Pol Luthfie Sulistiawan.

Kapolrestabes Surabaya menjelaskan bahwa rumah tersebut berfungsi sebagai pusat operasi yang didesain sedemikian rupa untuk menipu korban. Para pelaku memodifikasi interior bangunan agar terlihat identik dengan kantor kepolisian demi memperkuat skema penipuan melalui panggilan video.

Pihak kepolisian menemukan sejumlah peralatan pendukung di lokasi kejadian yang digunakan untuk menciptakan kesan otoritas resmi. Terdapat kotak-kotak perekam suara hingga berbagai atribut kepolisian yang dipasang di dinding ruangan untuk meyakinkan target.

"Mereka sudah menyiapkan box-box dengan perekam suara yang dipersiapkan matang. Di lokasi juga ada gambar-gambar daftar DPO hingga atribut kepolisian. Tujuannya agar seolah-olah itu benar-benar kantor polisi," kata Kombes Pol Luthfie Sulistiawan.

Selain dekorasi, para tersangka mengenakan seragam polisi untuk mengintimidasi korban dengan tuduhan palsu terkait kasus kriminal berat. Salah satu modus yang sering digunakan adalah menuduh korban terlibat dalam jaringan pencucian uang global.

"Mereka mengintimidasi korban di luar negeri, menyatakan terlibat TPPU, lalu memaksa korban untuk 'bertanggung jawab' dengan mengirimkan sejumlah uang," imbuh Kombes Pol Luthfie Sulistiawan.

Investigasi sementara mengungkap bahwa kerugian finansial yang diderita oleh salah satu korban mencapai angka yang sangat signifikan. Polisi masih terus melakukan pendataan terhadap korban-korban lain yang diperkirakan tersebar di wilayah Asia Timur.