PORTALBENGKULU.ID - Kegiatan mendaki gunung di lokasi yang ekstrem dinilai mampu membentuk pola pikir manusia menjadi lebih sederhana dan terarah dalam menghadapi persoalan hidup. Hal ini dirasakan langsung oleh pendaki perempuan Indonesia, Furky Syahroni, melalui berbagai ekspedisinya di gunung tropis hingga gunung es berketinggian di atas 6.000 meter.

Aktivitas di alam bebas yang penuh risiko menuntut seseorang untuk senantiasa fokus pada hal-hal esensial serta menghindari pengambilan keputusan yang terburu-buru. Pengalaman menghadapi kondisi ekstrem tersebut secara perlahan membangun ketenangan diri saat harus berhadapan dengan situasi sulit di kehidupan sehari-hari.

"Mendaki gunung bagi saya adalah sebagai salah satu api dalam hidup saya, yang membuat saya lebih giat setiap harinya karena memberikan tujuan dan tanggung jawab lebih," ujar Furky Syahroni dilansir dari Detik Travel.

Pola pikir yang terbentuk selama pendakian membuat Furky menjadi lebih tajam dalam membedah setiap permasalahan yang muncul. Ia terbiasa menentukan prioritas dengan cepat karena menyadari bahwa kesalahan kecil di gunung dapat berdampak fatal bagi keselamatan jiwa.

"Sejak aktif naik gunung, cara saya dalam memandang serta memecahkan berbagai masalah menjadi jauh lebih simpel dan tajam," kata Furky Syahroni.

Salah satu momen paling krusial dialami Furky saat melakukan ekspedisi di Mera Peak, Nepal, yang memiliki ketinggian mencapai 6.475 mdpl. Dalam kondisi cuaca buruk, ia harus mengambil keputusan sulit di tengah ancaman radang dingin atau frostbite serta risiko penyakit ketinggian akut.

Kondisi tubuh yang melemah saat itu menuntut pertimbangan rasional yang sangat efisien demi bertahan hidup. Pengalaman bertaruh nyawa di Nepal tersebut menjadi titik balik bagi Furky dalam kemampuannya menakar risiko secara tenang dan objektif.

Kepada para perempuan yang memiliki ketertarikan untuk mulai mendaki namun masih merasa ragu, Furky memberikan dorongan semangat yang kuat. Ia menyarankan agar calon pendaki tidak perlu menunggu kondisi yang sempurna untuk memulai sebuah perjalanan besar.

"Jangan menunggu merasa sempurna untuk berangkat, karena ketakutan itu wajar dan keberanian akan tumbuh seiring berjalannya perjalanan kita dari gunung yang sesuai kemampuan," ungkap Furky Syahroni.