PORTALBENGKULU.ID - Emiten konstruksi PT Sumber Mas Konstruksi Tbk. (SMKM) secara resmi memulai langkah transformasi bisnis besar-besaran. Perusahaan ini berencana merambah sektor akuakultur dengan menyepakati perjanjian akuisisi terhadap perusahaan budidaya udang, PanAsia Aquaculture Pte. Ltd. Group of Companies (PanAsia Group).
Langkah korporasi strategis ini ditandai dengan penandatanganan conditional sale and purchase agreement (CSPA) yang mencakup nilai transaksi cukup besar. Estimasi nilai akuisisi tersebut diprediksi mencapai angka US$100 juta, sebagaimana dilansir dari Market pada Minggu (18/5/2026).
Proses pengambilalihan PanAsia Group dari tangan Lim Shrimp Org Pte. Ltd. (LSO) ini ditargetkan dapat rampung sepenuhnya pada kuartal ketiga tahun 2026. Tidak berhenti di situ, SMKM juga menjadwalkan akuisisi LSO Organization Holdings Pte. Ltd. (LSO Holdings) senilai SGD13 juta pada Juni 2027.
Sebelumnya, Limp Shrimp Pte. Ltd. selaku pemegang 25 persen saham SMKM telah menargetkan kepemilikan hingga 450 juta lembar saham perseroan. Jumlah tersebut mencerminkan sekitar 35,91 persen dari seluruh modal yang ditempatkan dan disetor penuh dalam perusahaan konstruksi tersebut.
Aksi ini akan mengubah profil SMKM dari perusahaan konstruksi tradisional menjadi grup infrastruktur akuakultur dengan ekosistem terintegrasi. Fokus utama perusahaan nantinya adalah membangun kekuatan perikanan yang solid, baik di tingkat nasional maupun di kancah regional.
"Rekam jejak bisnis konstruksi SMKM akan dialihkan untuk membangun infrastruktur akuakultur skala besar, fasilitas pengolahan, serta integrasi rantai pasok global," ujar Chong Chee Hoong selaku Direktur PanAsia Group.
"Kami tidak hanya mengelola aset produktif, tetapi juga membangun sistem operasional terintegrasi yang didukung transfer teknologi, kapabilitas hilirisasi, dan integrasi ekosistem dari hulu hingga hilir," kata Chong Chee Hoong.
Saat ini, PanAsia Group telah mengoperasikan fasilitas smart aquaculture seluas 37 hektar dengan 40 kolam di Sumbawa yang telah berjalan sejak 2018. Selain itu, mereka memiliki aset akuakultur seluas 49 hektar di wilayah Sabah, Malaysia Timur, yang sudah beroperasi sejak tahun 1998.
Setelah penyelesaian proses reverse takeover (RTO), perusahaan menargetkan percepatan pembangunan infrastruktur regional yang terintegrasi dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Manajemen SMKM kini tengah fokus menyelaraskan visi jangka panjang untuk memastikan keberhasilan diversifikasi ini.