PORTALBENGKULU.ID - Masyarakat Hindu di Bali memiliki tradisi unik dalam menentukan hari baik melalui sistem kalender tradisional yang dikenal dengan ala ayuning dewasa. Pada Selasa, 28 April 2026, terdapat berbagai petunjuk penting yang berkaitan dengan aktivitas harian dan ritual keagamaan.
Hari tersebut bertepatan dengan Anggara Kasih Kulantir, sebuah momen yang dipercaya memiliki energi tertentu dalam kepercayaan lokal. Salah satu fokus utama pada penanggalan ini adalah kegiatan di sektor pertanian, khususnya mengenai pengelolaan hasil panen.
"Sistem ala ayuning dewasa menjadi acuan vital bagi umat Hindu di Bali guna menakar nilai baik atau buruknya sebuah hari sebelum menggelar upacara adat maupun rutinitas harian," dilansir dari Detikcom.
Berdasarkan data teknis dari kalenderbali.org, salah satu elemen yang paling menonjol pada hari tersebut adalah Srigati Jenek. Kehadiran elemen ini diyakini membawa dampak positif bagi para petani yang ingin memulai tahap baru dalam siklus tanam mereka.
Waktu ini dinilai sangat ideal untuk menyemai bibit, menanam padi, hingga proses penyimpanan hasil panen di lumbung. Selain itu, pelaksanaan upacara yang berkaitan dengan kemakmuran pangan juga sangat disarankan untuk dilakukan pada momentum tersebut.
"Kajeng Kliwon Enyitan pada tanggal tersebut merupakan saat yang tepat bagi masyarakat yang ingin mulai merangkai sesikepan atau benda-benda spiritual yang diyakini memiliki kekuatan proteksi," dilansir dari Detikcom.
Sisi lain dari penanggalan ini juga menyoroti pembuatan alat-alat kerja melalui kehadiran Kala Jangkut. Kondisi tersebut memberikan dukungan bagi mereka yang berencana membuat senjata atau alat tangkap ikan tradisional seperti jaring dan pencar.
Untuk urusan konstruksi pengamanan, elemen Kala Kutila Manik memberikan waktu yang baik untuk membangun pagar atau lubang penghalang. Selain itu, periode ini juga cocok untuk mempersiapkan alat perangkap serta pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya.
Meskipun banyak sisi positif, terdapat larangan tegas untuk melakukan pengolahan tanah secara langsung pada hari tersebut. Berdasarkan perhitungan Kala Sor, masyarakat diimbau untuk tidak membajak sawah, bercocok tanam, atau menggali terowongan bawah tanah.