PORTALBENGKULU.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau masih melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan awal pekan ini. Berdasarkan data pasar terbaru, mata uang Garuda mengalami tekanan yang cukup signifikan akibat kombinasi sentimen global serta kondisi fiskal di dalam negeri.
Dilansir dari Bisnis.com, rupiah tercatat melemah sebesar 0,11 persen atau turun 19,8 poin ke posisi Rp17.717 per dolar AS pada perdagangan intraday pukul 09.20 WIB, Senin (25/5/2026). Penurunan ini menggenapi depresiasi nilai tukar rupiah yang telah menembus angka 8,72 persen dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) pada saat yang sama justru mengalami pelemahan sebesar 0,24 persen ke level 99,01. Kendati demikian, indeks tersebut masih menunjukkan penguatan sebesar 0,52 persen dalam sebulan terakhir, dengan proyeksi kuartal II/2026 berada di kisaran angka 99,03.
"Rupiah memperpanjang pelemahannya pada hari Jumat (22/5), melewati Rp17.700 per dolar AS karena indeks dolar bertahan mendekati level tertinggi dalam enam minggu, di tengah harga minyak yang tinggi, inflasi AS yang tetap tinggi, dan kenaikan imbal hasil Treasury," tulis laporan Trading Economics.
Selain faktor eksternal, kondisi ekonomi domestik turut memberikan sentimen pemberat bagi pergerakan mata uang nasional. Salah satu pemicu utamanya adalah pelebaran defisit transaksi berjalan pada triwulan I/2026 yang mencapai US$4 miliar atau setara dengan 1,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
"Tekanan pada mata uang rupiah telah meningkat sejak April, akibat arus keluar modal, tekanan fiskal, dan risiko inflasi yang terkait dengan ketegangan di Timur Tengah," tulis laporan Trading Economics.
Untuk meredam gejolak ini, Bank Indonesia sebenarnya telah mengambil langkah antisipatif dengan menaikkan suku bunga acuan di luar perkiraan pasar. Namun, cadangan devisa Indonesia dilaporkan telah menyusut sekitar US$10 miliar sepanjang tahun ini hingga April akibat langkah intervensi pasar yang dilakukan secara terus-menerus.
"Kenaikan suku bunga yang lebih besar dari perkiraan oleh Bank Indonesia awal pekan ini memberikan sedikit bantuan, setelah pembuat kebijakan memperingatkan bahwa biaya energi yang lebih tinggi masih mengancam rupiah. Sementara itu, cadangan devisa telah turun sekitar US$10 miliar tahun ini hingga April akibat intervensi yang berkelanjutan," tulis laporan Trading Economics.
Dengan dinamika yang berkembang saat ini, rupiah diperkirakan masih akan menghadapi tren depresiasi mingguan kedelapan sepanjang tahun ini dengan pelemahan mendekati 6 persen secara year-to-date (YtD). Meski begitu, bank sentral tetap optimis bahwa stabilisasi nilai tukar dapat tercapai pada pertengahan tahun seiring dengan meredanya tekanan musiman.