PORTALBENGKULU.ID - Bentangan hijau persawahan di tengah hiruk-pikuk Kota Denpasar kini perlahan mulai terkikis oleh laju pembangunan perumahan yang masif. Sistem irigasi tradisional Bali yang legendaris, subak, tengah menghadapi tantangan berat akibat alih fungsi lahan yang terus terjadi, sebagaimana dilansir dari Detik Travel.

Kondisi kritis ini memicu kekhawatiran mendalam dari kalangan akademisi yang melihat adanya ancaman nyata bagi masa depan lingkungan. Penyusutan lahan pertanian produktif ini dikhawatirkan tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga mengancam stabilitas ketahanan pangan lokal di ibu kota Provinsi Bali tersebut.

"Subak tidak hanya menyediakan pangan beras, tetapi sangat erat kaitannya dengan aspek sosial dan budaya," kata I Ketut Suamba pada Rabu (20/5).

Ketua Unit Subak Universitas Udayana tersebut menilai bahwa hilangnya lahan pertanian akan menyulitkan daerah dalam mewujudkan kemandirian pangan. Terlebih, ketergantungan pangan dari luar wilayah berpotensi meningkat jika konversi lahan tidak segera ditekan secara signifikan.

"Apalagi sekarang arahnya sudah kedaulatan pangan yang berarti ketersediaan mencukupi, terjangkau dan dihasilkan sendiri khususnya Bali termasuk Kota Denpasar," ujar Suamba.

"Tetap dilakukan subsidi terhadap input, bahkan juga terhadap output dan juga sinergi subak dalam pengembangan pariwisata dalam bentuk agrowisata atau agroekowisata," tutur Suamba.

Berdasarkan catatan dari pemerintah daerah setempat, luas subak yang masih aktif di Kota Denpasar kini hanya tersisa sekitar 1.915 hektare. Luasan yang kian menyusut tersebut tersebar di 42 subak yang masih bertahan di empat kecamatan kota.

"Itu termasuk sawah dan tanaman hortikultura, bukan sawah saja. Yang kami catat yang aktif yang tentu masih bisa ditanam untuk kami beri bantuan, bantuannya beragam, bisa bibit seperti itu," kata AA Gde Bayu Brahmasta pada Rabu (13/5).

Kepala Dinas Pertanian Kota Denpasar tersebut menjelaskan bahwa wilayah Denpasar Selatan dan Denpasar Utara menjadi kawasan yang paling rentan. Hal ini dipicu oleh tingginya permintaan lahan untuk pembangunan proyek perumahan baru di kedua wilayah tersebut.