PORTALBENGKULU.ID - New Orleans, salah satu kota metropolitan bersejarah di Amerika Serikat, kini tengah menghadapi tantangan eksistensial yang sangat besar. Kota yang terkenal dengan kebudayaannya yang kaya ini perlahan-lahan mulai dikepung oleh kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan global.

Berdiri di atas delta yang terus menyusut, wilayah pesisir Louisiana ini merupakan salah satu dataran terendah di dunia. Kondisi geografis yang menyerupai mangkuk membuat kota berpenduduk sekitar 360.000 jiwa tersebut berada dalam posisi yang sangat rentan terhadap perubahan iklim.

Berdasarkan informasi yang dilansir dari Detik iNET, hilangnya lahan basah penyangga badai memperparah kondisi ini akibat pembangunan yang masif sejak dekade 1930-an. Analisis dari jurnal Nature Sustainability bahkan memprediksi bahwa Teluk Meksiko berpotensi mengepung New Orleans sebelum abad ini berakhir.

Untuk memahami risiko masa depan, para peneliti menengok kembali sejarah geologis wilayah tersebut pada 125.000 tahun silam. Kala itu, suhu bumi mirip dengan kondisi saat ini, namun permukaan air laut tercatat minimal tiga meter lebih tinggi.

"Sangat mungkin permukaan laut akan naik kembali ke ketinggian tersebut di masa yang akan datang," kata Torbjorn Tornqvist.

Perpindahan penduduk sebenarnya bukan hal baru bagi kota ini, terutama setelah hantaman dahsyat Badai Katrina pada tahun 2005 silam. Bencana tersebut sempat memicu eksodus besar-besaran yang mengurangi sekitar seperempat populasi kota.

"Jika sudah jelas bahwa pada akhirnya kita harus pergi, apakah kita harus menunggu sampai seluruh sumber daya masyarakat habis dan krisis benar-benar terjadi?" tanya Brianna Castro.

Risiko lingkungan ini kian nyata karena hampir seluruh warga New Orleans kini bermukim di zona rawan bencana. Kurang lebih 99 persen populasi di kota ini menghadapi ancaman banjir tingkat tinggi yang siap datang sewaktu-waktu.

"Ketika badai dahsyat sekelas Katrina kembali menghantam kota ini, hampir semua orang dipastikan akan mengalami kerusakan akibat banjir," ujar Wanyun Shao.