PORTALBENGKULU.ID - Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPP PDIP) mengambil langkah strategis dalam memperkuat landasan ideologi para kadernya di tingkat daerah. Partai berlambang banteng moncong putih ini kini mewajibkan pemutaran serta menyanyikan lagu 'Bung Karno Bapak Marhaenisme' di setiap forum resmi kepartaian.
Kebijakan baru ini pertama kali diimplementasikan dalam acara Pembekalan dan Bimbingan Teknis Anggota DPRD PDIP seluruh Indonesia masa bakti 2024-2029. Agenda penting tersebut diselenggarakan di Novotel Mangga Dua, Jakarta Utara, pada Sabtu (29/5/2026), sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Langkah integrasi lagu baru ini ditempatkan pada awal sesi protokoler sebagai upaya sistematis menanamkan nilai-nilai perjuangan kepada ribuan legislator yang baru dilantik. Upacara pembukaan bimbingan teknis tersebut dipimpin langsung oleh Ketua DPP PDIP, Djarot Saiful Hidayat.
"Karya musik ini berfungsi sebagai pengingat mendalam bagi seluruh kader, khususnya para legislator baru, bahwa fokus utama perjuangan partai adalah membela serta memperjuangkan nasib rakyat kecil atau kaum Marhaen," ujar Djarot Saiful Hidayat.
Penerapan instruksi ini dinilai sangat momentum karena bertepatan dengan peringatan Bulan Bung Karno yang menjadi ruang refleksi historis partai. Melalui pengenalan lagu ini, DPP PDIP berharap loyalitas kader semakin kokoh dan tercermin dalam kebijakan publik yang mereka rumuskan kelak.
"Momentum Bulan Bung Karno ini harus kita manfaatkan untuk mempererat kesetiaan pada instruksi partai sekaligus mengimplementasikan pemikiran Bung Karno dalam setiap regulasi yang dilahirkan," kata Djarot Saiful Hidayat.
"Mulai saat ini, dalam seluruh agenda formal yang menggunakan protokol kepartaian, lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme menjadi lagu yang wajib untuk dinyanyikan," tegas Djarot Saiful Hidayat.
Dalam pengarahan tersebut, Djarot didampingi oleh sejumlah jajaran fungsionaris teras DPP PDIP yang turut mengawal jalannya pembekalan. Beberapa tokoh yang hadir di antaranya adalah Andreas Hugo Pareira, Ribka Tjiptaning, Wiryanto Sukamdani, Darmadi Durianto, Yoseph Aryo Adhi Dharmo, Yuke Yurike, dan Sri Rahayu.
Guna memastikan efektivitas penyampaian materi, program bimbingan teknis ini dirancang secara desentralisasi ke dalam enam wilayah regional di Indonesia. Langkah ini diambil untuk mengakomodasi sekitar 4.000 anggota dewan terpilih yang tersebar di wilayah Jakarta, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar, hingga Papua.