PORTALBENGKULU.ID - Sebuah insiden signifikan terjadi di kawasan geopolitik sensitif ketika drone pengintai canggih milik Angkatan Laut Amerika Serikat (AS), MQ-4C Triton, dilaporkan menghilang tanpa jejak di Selat Hormuz pada hari Jumat, 10 April 2026. Peristiwa ini sontak menimbulkan tanda tanya besar mengenai keamanan wilayah udara strategis tersebut.

Drone yang bernilai lebih dari US$ 200 juta (sekitar Rp 3,4 triliun) tersebut dilaporkan sempat mengirimkan sinyal darurat sesaat sebelum menghilang total dari pantauan radar. Informasi ini didapatkan dari sumber-sumber pemantauan udara yang mengikuti jejak operasional pesawat nirawak tersebut.

Menurut data yang tersedia, drone berjenis High-Altitude Long Endurance (HALE) itu baru saja menyelesaikan misi pengintaian selama tiga jam di area Teluk Persia dan Selat Hormuz. Kejanggalan mulai terdeteksi ketika MQ-4C Triton dalam fase kembali menuju pangkalan utamanya di Naval Air Station Sigonella, Italia.

Data yang terekam dari situs pelacak penerbangan Flightradar24 menunjukkan adanya pergeseran arah yang tidak biasa. Pesawat nirawak tersebut terlihat sedikit menyimpang menuju wilayah udara Iran, tepat sebelum mengirimkan kode 7700, yang merupakan sinyal darurat umum internasional.

Setelah mengirimkan kode darurat tersebut, drone tersebut dilaporkan mengalami penurunan ketinggian secara drastis sebelum akhirnya benar-benar lenyap dari jangkauan radar. Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi apakah hilangnya aset militer bernilai tinggi ini disebabkan oleh kegagalan teknis atau tindakan intervensi pihak lain.

Insiden ini menjadi semakin krusial karena terjadi hanya dua hari setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata, yang salah satu poin utamanya adalah pembukaan kembali Selat Hormuz untuk lalu lintas kapal komersial. Hilangnya aset intelijen ini menguji stabilitas perjanjian yang baru terjalin tersebut.

MQ-4C Triton merupakan aset vital bagi AS karena kemampuannya melakukan pengintaian skala besar di titik-titik sempit strategis seperti Selat Hormuz. Drone ini berfungsi sebagai "mata di ketinggian" yang mampu terbang lebih dari 24 jam tanpa henti di ketinggian di atas 50.000 kaki.

Kehilangan satu unit drone ini merupakan pukulan telak bagi kapabilitas intelijen AS di kawasan Teluk, mengingat Angkatan Laut AS baru memiliki 20 unit Triton pada tahun 2025 dan berencana menambah tujuh unit lagi. "Kehilangan satu unit di wilayah sensitif seperti Iran bukan hanya kerugian finansial yang masif, tetapi juga merupakan pukulan telak bagi keamanan intelijen AS di wilayah Teluk, terutama di saat stabilitas gencatan senjata sedang diuji oleh ketegangan politik yang belum sepenuhnya mereda," demikian analisis yang dilansir dari investor.id.

Peristiwa ini juga menyoroti biaya besar yang dikeluarkan AS dalam konflik yang melibatkan Iran. Berdasarkan data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), AS menghabiskan dana sekitar US$ 10.300 (sekitar Rp 176 juta) setiap detiknya selama konflik berlangsung.