PORTALBENGKULU.ID - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini memasuki babak baru yang penuh harapan. Angin segar perdamaian mulai berembus dari New Delhi, tempat di mana diplomasi tingkat tinggi tengah diupayakan untuk mengakhiri perselisihan antara Amerika Serikat dan Iran.

Kabar baik ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, di sela-sela kunjungan kerjanya di ibu kota India tersebut pada Senin (25/5/2026). Upaya perdamaian ini dijembatani oleh Pakistan sebagai mediator, dengan fokus utama membuka kembali jalur pelayaran vital di Selat Hormuz, dilansir dari Detikcom.

"Kemungkinan hari ini" akan ada kabar mengenai perundingan antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang, kata Rubio.

Meskipun belum ada konfirmasi resmi mengenai finalisasi nota kesepahaman antara Washington dan Teheran, pembicaraan dinilai telah mencapai tahap yang sangat maju. Sebuah draf perjanjian yang matang kini tengah dipelajari oleh kedua belah pihak di meja perundingan.

"Pekerjaan masih berlangsung. Kami pikir mungkin akan ada sejumlah kabar nanti malam, mungkin hari ini," ujar Rubio saat berbicara kepada wartawan di sela-sela kunjungannya di New Delhi pada Senin (25/5) waktu setempat.

Selain pemulihan jalur navigasi di Selat Hormuz, agenda krusial lain yang dibahas adalah pembatasan waktu terkait program pengembangan nuklir Iran. Langkah ini diharapkan dapat meredakan kekhawatiran global terhadap potensi eskalasi militer di kawasan tersebut.

"Hal yang cukup solid di atas meja terkait kemampuan mereka untuk membuka selat, membuat selat dibuka, memasuki negosiasi yang sangat nyata, signifikan, dan dengan waktu terbatas mengenai masalah nuklir," ucap Rubio.

"Semoga kita bisa mewujudkannya," harap Rubio.

Di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, Amerika Serikat menegaskan komitmennya untuk mengutamakan jalur diplomasi yang saling menguntungkan. Walau demikian, Gedung Putih memastikan tidak akan terburu-buru dalam mengambil keputusan krusial ini.