PORTALBENGKULU.ID - Aktivitas penguatan cadangan devisa melalui instrumen emas kembali menjadi strategi utama bank sentral di berbagai belahan dunia pada awal tahun 2026. Langkah ini diambil sebagai solusi praktis untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik serta tekanan inflasi yang masih membayangi pasar global.

Emas dinilai sebagai aset aman (safe haven) yang mampu memberikan perlindungan jangka panjang bagi kekayaan negara. Berdasarkan data yang dihimpun, instrumen ini semakin kokoh posisinya sebagai pilar utama dalam menghadapi ketidakpastian situasi ekonomi internasional yang dinamis.

Laporan Gold Demand Trends Q1 2026 yang dilansir dari Money menunjukkan bahwa tren akumulasi emas oleh otoritas moneter tetap berada pada jalur yang kuat. Meskipun terdapat dinamika jual-beli di beberapa wilayah, minat secara keseluruhan terhadap logam mulia ini tetap menunjukkan angka yang solid.

Sepanjang kuartal pertama tahun 2026, bank sentral di seluruh dunia mencatatkan pembelian bersih sebesar 244 ton emas. Angka ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 3 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year-on-year).

"Permintaan emas dari bank sentral dimulai dengan kuat pada tahun 2026, dengan perkiraan pembelian bersih sebesar 244 ton pada kuartal pertama," tulis World Gold Council (WGC) dalam laporan resminya.

Negara-negara berkembang muncul sebagai motor penggerak utama dalam aksi borong emas kali ini untuk memperkuat struktur keuangan mereka. Polandia memimpin dengan penambahan cadangan sebesar 31 ton, yang kemudian diikuti oleh Uzbekistan dengan catatan pembelian sebesar 25 ton.

Di sisi lain, terdapat beberapa negara yang melakukan langkah taktis dengan melepas sebagian cadangan emas mereka untuk kebutuhan domestik. Negara-negara tersebut antara lain adalah Turkiye, Rusia, dan Azerbaijan yang memilih melakukan penjualan di tengah tren kenaikan harga.

Bank sentral Turkiye, misalnya, melepas sekitar 70 ton emas atau 10 persen dari total cadangannya sebagai solusi untuk menstabilkan mata uang lokal. Fenomena ini menunjukkan bahwa emas tidak hanya berfungsi sebagai simpanan, tetapi juga sebagai instrumen likuiditas yang sangat efektif saat terjadi guncangan pasar.

Faktor keamanan politik internasional menjadi katalisator penting yang mendorong minat terhadap emas sebagai solusi perlindungan aset. Ketegangan di kawasan Timur Tengah serta dinamika hubungan dagang antara Amerika Serikat dan China menjadi perhatian serius bagi para pengambil kebijakan moneter.