PORTALBENGKULU.ID - Kabupaten Banyuwangi kini menjadi sorotan nasional setelah dinilai sukses menjalankan proyek percontohan Digitalisasi Perlindungan Sosial (Perlinsos). Pada Jumat (8/5/2026), pemerintah mengumumkan bahwa sistem baru ini berhasil mengintegrasikan data secara akurat untuk menyaring penerima bantuan sosial.

Dilansir dari Detikcom, tercatat ada sekitar 350.000 warga yang mendaftarkan diri melalui platform digital tersebut. Namun, hasil verifikasi ketat menunjukkan fakta mengejutkan bahwa 60 persen dari total pendaftar dinyatakan tidak memenuhi syarat (TMS).

"Sekitar 60 persen yang mendaftar tidak layak menerima. Terbukti sistem ini betul-betul bisa memverifikasi masyarakat," ujar Plt Kadinsos Kabupaten Banyuwangi, Setyo Puguh Widodo.

Sistem Perlinsos Digital ini dirancang khusus untuk berfungsi sebagai filter selektif dalam memproses data masyarakat. Melalui verifikasi otomatis, pemerintah kini memiliki kemampuan untuk membedakan profil pendaftar berdasarkan kondisi ekonomi yang sebenarnya di lapangan.

Rahmat Andika, selaku Koordinator Gugus Tugas Komite Percepatan Transformasi Digital Pemerintahan (KPTDP), menjelaskan keunggulan utama teknologi ini. Sistem tersebut mampu melacak kepemilikan aset secara aktual dan real-time, termasuk kepemilikan tanah.

Berkat sinkronisasi data ini, pemerintah berhasil menemukan ketidaksinkronan pada data lama, di mana terdapat penerima bantuan yang ternyata memiliki aset berharga. Hal ini mempermudah petugas dalam memberikan edukasi dan kepastian hukum mengenai kelayakan penerima.

"Ada penerima Bansos eksisting yang setelah diverifikasi digital ternyata memiliki beberapa bidang tanah. Saat masa sanggah, yang bersangkutan tidak bisa mengelak karena datanya sinkron. Akhirnya harus menerima hasil bahwa dia tidak layak," kata Rahmat Andika.

Meskipun banyak pendaftar yang ditolak, teknologi ini justru membawa berkah bagi warga kategori rentan yang selama ini belum terdata. Di salah satu wilayah, jumlah penerima bantuan meningkat signifikan dari 47 orang menjadi 86 orang setelah proses verifikasi selesai.

Peninjauan mendalam juga dilakukan di Desa Benelanlor, Kecamatan Kabat, yang mencatat angka penyanggah tertinggi demi menjaga akurasi data. Langkah ini merupakan bagian dari persiapan sebelum mekanisme baru ini diterapkan secara lebih luas di wilayah lain.