PORTALBENGKULU.ID - Tekanan darah tinggi kini tidak lagi identik sebagai penyakit lansia, melainkan kian marak menyerang kelompok usia muda. Fenomena ini ditandai dengan meningkatnya temuan kasus stroke pada pasien berusia produktif akibat perubahan respons tubuh terhadap tekanan psikologis, sebagaimana dilansir dari Detik Health.

"Tekanan darah saat ini telah mencapai titik di mana stres begitu menyatu dengan keseharian kita, sehingga kita hampir tidak menyadari dampak buruk yang ditimbulkannya pada tubuh," kata Dr Mouryadeep Ghatak selaku Konsultan Psikiater Dewasa dan Seksolog.

Gaya hidup modern seperti jam kerja yang panjang, kebiasaan bermain gawai hingga larut malam, serta pola makan buruk menjadi pemicu utama aktifnya sistem saraf secara terus-menerus. Kondisi ini membuat tubuh memproduksi hormon stres secara berulang yang lambat laun memicu peradangan serta menurunkan kelenturan pembuluh darah.

Kurang tidur menjadi jembatan krusial yang menghubungkan stres dengan kenaikan tekanan darah, padahal sistem kardiovaskular sangat membutuhkan waktu istirahat untuk memulihkan diri. "Dalam kondisi normal, seseorang akan mengalami penurunan tekanan darah saat tidur yang memberikan kesempatan bagi jantung untuk beristirahat," ujar Dr Mouryadeep Ghatak.

Sayangnya, stres kronis kerap merusak waktu pemulihan tersebut, diperparah oleh paparan layar gawai di malam hari yang menghambat sekresi hormon melatonin. Gangguan ini memicu kecemasan sebelum tidur, yang berujung pada durasi tidur yang sangat minim atau bahkan insomnia akut.

"Apabila kurang tidur telah menjadi kebiasaan, kadar hormon stres akan tetap tinggi sehingga pembuluh darah terus menyempit dan tekanan darah gagal turun di malam hari," tutur Dr Mouryadeep Ghatak.

Tekanan psikologis yang berkepanjangan juga mendorong seseorang mengadopsi kebiasaan tidak sehat demi pelarian sesaat. Kebiasaan tersebut meliputi jarang berolahraga, ketergantungan pada makanan cepat saji, merokok, hingga konsumsi alkohol yang secara kumulatif mempercepat munculnya hipertensi.

"Banyak orang yang mengalami stres tidak menyadari bahwa kondisi mental ini perlahan merusak jantung, ginjal, pembuluh darah, dan otak mereka sebelum gejala fisik yang nyata mulai muncul," jelas Dr Mouryadeep Ghatak.

Berdasarkan data dari CDC, tekanan darah tinggi dikenal sebagai pembunuh senyap karena sering kali berkembang tanpa menunjukkan gejala klinis yang jelas. Bahkan, temuan terbaru dari CKG menunjukkan potret yang mengkhawatirkan di mana kini satu dari lima remaja dilaporkan sudah mengidap hipertensi.