PORTALBENGKULU.ID - Fenomena bisnis rintisan milik Generasi Z yang mendadak populer di media sosial kini tengah menjadi sorotan hangat di Indonesia. Banyak pelaku usaha muda sukses menarik perhatian publik dengan strategi promosi digital yang sangat kreatif dan memikat.

Namun, tidak sedikit dari bisnis yang sempat viral tersebut justru meredup dan terpaksa berhenti beroperasi dalam waktu singkat. Dilansir dari Detikcom, fenomena ini mendapat perhatian khusus dari akademisi Universitas Sumatera Utara (USU) yang menyoroti kelemahan mendasar di balik popularitas instan tersebut.

Dosen Program Studi Kewirausahaan USU, Arif Qaedi Hutagalung, menjelaskan bahwa Generasi Z memang memiliki keunggulan luar biasa dalam menguasai algoritma media sosial. Kemampuan ini membuat mereka sangat piawai menciptakan konten yang mudah dibagikan dan memicu perbincangan publik.

"Popularitas di media sosial sangat dipengaruhi oleh permainan algoritma, dan generasi muda ini sangat mengerti cara memproduksi konten kreatif yang menarik perhatian banyak penonton serta memicu interaksi luas di internet," ujar Arif Qaedi Hutagalung pada 19 Mei 2026.

Meskipun kecakapan digital tersebut mempermudah tahap awal merintis usaha, Arif menilai banyak pemuda yang berbisnis hanya demi mengikuti tren semata. Akibatnya, operasional niaga mereka sering kali kehilangan arah yang jelas setelah euforia promosi awal mulai mereda.

Menurutnya, sebagian besar pelaku usaha dari generasi ini terlalu memprioritaskan aspek pencitraan merek di dunia maya. Mereka kerap mengabaikan kualitas dan nilai guna nyata dari produk yang ditawarkan kepada konsumen.

"Generasi Z sangat andal dalam memanfaatkan perangkat digital untuk membangun kesadaran merek, tetapi mereka sering lupa memastikan kesiapan produk serta nilai manfaat konkret yang ingin ditawarkan kepada pelanggan," kata Arif Qaedi Hutagalung.

Arif memaparkan bahwa kegagalan bisnis ini umumnya berakar pada minimnya riset pasar dan ketiadaan konsep usaha yang matang. Ambisi untuk meraup keuntungan finansial dalam waktu singkat juga menjadi hambatan besar bagi keberlanjutan bisnis jangka panjang.

Ia menambahkan bahwa mengikuti tren pasar sebenarnya bukanlah hal yang keliru untuk dilakukan oleh para pemula. Kendati demikian, setiap pelaku usaha tetap dituntut untuk menyuntikkan nilai keunikan agar produk mereka memiliki daya saing yang kuat.