PORTALBENGKULU.ID - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur terus memantau perkembangan kesehatan sepasang induk dan anak orang utan, Mauliyan dan Ariandi. Saat ini, kedua satwa tersebut dilaporkan hidup sehat di kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kabupaten Kutai Timur, pada Senin (25/5/2026).

Kedua primata ini diselamatkan dari area pertambangan batu bara di Kutai Timur pada tahun 2023, dilansir dari Detikcom. Saat dievakuasi, kondisi mereka sangat memprihatinkan akibat mengalami dehidrasi serta malnutrisi parah karena minimnya ketersediaan pakan dan air di habitat sebelumnya.

Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto, menjelaskan bahwa proses pemulihan difokuskan pada perbaikan kondisi fisik. Hal ini dikarenakan sifat liar kedua satwa tersebut masih terjaga dengan sangat baik selama masa karantina.

"Kedua individu orang utan tersebut sempat menderita malnutrisi, sehingga penanganan kami fokuskan pada peningkatan asupan nutrisi dan pemulihan kondisi kesehatan mereka," ujar M Ari Wibawanto.

Pihak balai juga tidak memerlukan waktu lama untuk melatih kembali perilaku adaptasi satwa ini. Insting bertahan hidup mereka di alam bebas dinilai masih sangat kuat selama menjalani masa rehabilitasi.

"Karena perilaku mereka yang dasarnya masih sangat liar, tindakan yang kami lakukan lebih menitikberatkan pada rehabilitasi medis dan pemenuhan kebutuhan gizi," kata M Ari Wibawanto.

Kisah penyelamatan ini menyimpan perjuangan berat, terutama bagi sang induk, Mauliyan. Saat dievakuasi, ia diketahui tengah menyusui anaknya, Ariandi, yang kala itu baru menginjak usia tiga tahun.

"Saat pemeriksaan awal setelah evakuasi, produksi ASI sang induk terpantau sangat minim, padahal anaknya masih sangat bergantung pada asupan susu tersebut," ungkap Widi Nursanti.

Kondisi fisik Mauliyan bahkan sempat kritis akibat kelelahan dan kelaparan ekstrem. Ia sempat kehilangan kesadaran karena kadar gula darahnya merosot drastis saat menyusui dalam kondisi kurang gizi.