PORTALBENGKULU.ID - Pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia saat ini tengah berada dalam fase fluktuasi yang cukup dinamis. Para investor disarankan untuk lebih waspada dalam mencermati pergerakan pasar obligasi domestik yang dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal maupun internal.

Kondisi ini dipicu oleh ketidakpastian arah kebijakan suku bunga di Amerika Serikat serta dinamika risiko fiskal di dalam negeri. Dilansir dari Market, situasi tersebut mendorong pelaku pasar untuk mengambil langkah yang lebih konservatif terhadap aset surat utang pemerintah.

"Dinamika geopolitik global, arah suku bunga Amerika Serikat, serta risiko fiskal dalam negeri menjadi faktor utama yang membayangi pasar surat utang domestik," jelas Lilis Setiadi selaku Presiden Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen dalam acara SMBC Indonesia Economic Forum 2026 pada Selasa (19/5/2026).

Dari sisi domestik, perhatian investor tertuju pada tata kelola kebijakan fiskal dan agresivitas belanja pemerintah. Penerimaan negara dari sektor perpajakan yang belum mencapai target turut menjadi catatan penting bagi para pemegang modal di pasar sekunder.

"Otomatis akan masih terus mengalami volatilitas karena faktor global dan domestik. Selama kedua hal ini masih terus ada dinamika, kita harus terus mencermati dampaknya terhadap pasar obligasi," kata Lilis Setiadi.

Penurunan kepemilikan asing pada obligasi pemerintah tenor rupiah (FR) menjadi bukti nyata dari sikap waspada para investor internasional. Saat ini, angka kepemilikan tersebut menyusut hingga kisaran 12,7 persen, jauh di bawah posisi sebelum pandemi yang pernah menyentuh 40 persen.

Kendati demikian, imbal hasil atau yield obligasi Indonesia masih tergolong kompetitif jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya. Sebagai contoh, yield FR tenor 10 tahun berada di angka 6,8 persen, masih bersaing dengan India di level 7 persen dan Filipina sebesar 7,2 persen.

"Ini angka yang relatif masih cukup stabil, karena biasanya rentang antara US Treasury 10 tahun dibandingkan FR 10 tahun berada di 210 sampai 250 basis point, dan sekarang di 220 jadi masih normal," ujar Lilis Setiadi.

Fokus utama pelaku pasar ke depan adalah memantau data inflasi yang akan sangat menentukan arah suku bunga Bank Indonesia. Inflasi memiliki peran krusial dalam memengaruhi nilai tukar mata uang yang berdampak langsung pada daya tarik instrumen SBN bagi investor.